Sore itu aku numpang mobil ibu Widya pulang ke rumah. Karena kebetulan arah rumah kami satu jalur. Sepanjang jalan ada satu lagu yang diulang-ulang terus oleh ibu Widya. Lagu itu sih tidak terlalu ku kenal, maklum dia termasuk lagu oldies tahun 60 an kayaknya. Itu ku terka saja dari musiknya. Musiknya bergenre country, agak ngebit namun enak di dengar. Sangking penasarannya aku bertanya:
"Kok direwind terus bu lagu itu? Emang lagu favoritnya ya?"
"Iya, aku suka musik dan kata-kata dalam syair lagu ini !" Jawab ibu Widya.
"Memangnya tentang apa sih syair lagu itu?"
"Susah juga ya dari tadi kamu dengar lagu ini tapi gak tau apa isinya?"
"Maklum bu syairnya bahasa Inggris...jadi gak familiar di telinga..."
"Payah listening dunk..."
" Hahahaha...betul-betul-betul. Btw...apa donk isinya bu?" Tanyaku lagi...
" Kalo gitu kita rewind lagi ya..!" Ibu Widya pun memencet tombol MP3 Player dimobilnya ke nomor lagu itu. Aku mencoba menyimak kata-katanya. Kalau tidak salah begini bunyinya :
Sometimes its hard to be a woman
Givin all your love to just one man
You'll have bad times and he'll have good times
Doing things that you dont understand
But if you love him you'll forgive him
Even though he's hard to understand
And if you love him
Oh be proud of him
Cause after all he's just a man
"O..o....o...dalam banget artinya buw...!"Tanyaku tanpa memperhatikan mata Ibu Widya yang mulai berkata-kata. Lama dia terdiam tanpa komentar, membuat ku menoleh ke arahnya. Ku lihat ada setitik air mata yang hampir jatuh di sudut matanya.
"Ibu kenapa?" tanyaku setengah kaget melihat reaksi melankolisnya.
"Gak pa pa Yan. Aku hanya tersentuh aja dengan kata-kata lagu-lagu ini. Itu yang membuat ku sedih." Ibu Widyapun menyeka matanya yang mulai basah, sambil tetap menyetir mobil. Aku baru teringat bahwa Ibu Widya sudah lama menjanda. Mungkin dia mengenang kembali masa-masa indahnya waktu bersama-sama dengan mantan suami dan anak-anak mereka sehingga menjadi melankolis.
"Bulan depan Zena menikah Yan." Cerita ibu Widya dengan suara serak.
"Iya bu, akhirnya menikah juga anak ibu. Itukan berita bahagia bu?kenapa ibu malah sedih?" Tanyaku semata-mata hanya untuk membuatnya tidak terlalu sedih.
"Betul katanya ibu muda. Hanya itu berarti aku harus bersanding dengan papanya Zena di pelaminan. Kami kan sudah lama berpisah dan tidak pernah saling berhubungan lagi. Hanya anak-anak yang terus berhubungan dengan dia."
"Jadi ibu merasa risih bersanding dengan beliau?" terka ku sekenanya.
"Tidak juga Yan...Hanya tidak terbiasa saja. Kami berpisah 20 tahun yang lalu ketika Zena masih berumur 5 tahun. Dan sejak itu kami tidak pernah berhubungan dan berkomunikasi lagi. Dulu waktu anak-anak masih kecil-kecil, bude dan pade mereka yang membantu mereka untuk bertemu dengan ayahnya. Tapi sejak anak-anak menginjak dewasa, mereka sudah bisa sendiri bertemu dengan ayah mereka."
"Itu berarti ini pertemuan pertama lagi setelah ibu berpisah?"Tanyaku lagi.
"Iya Yan. Makanya lagunya Tammy Wynette ini sangat cocok buatku. Hahahah..."Ibu Widya tertawa renyah seakan melupakan kisah sedihnya.
"Lagu itu mengatakan bahwa Kadang-kadang sulit untuk menjadi seorang wanita, memberikan semua cintanya hanya untuk satu orang laki-laki. Wanita akan memiliki waktu buruk dan pria akan memiliki waktu yang baik. Sehingga kadang wanita melakukan hal-hal tidak dimengerti. Tetapi jika kau mencintainya maka kau akan memaafkannya. Meskipun dia sulit dimengerti. Tapi meski begitu kau dituntut untuk tetap berdiri di sampingnya. Stand by Your Man." Panjang lebar Ibu Widya menjelaskan makna lagu sekaligus menggambarkan isi hatinya. Aku kehabisan kata-kata untuk menimpali penjelasan ibu Widya. Aku pun tergerus untuk semakin menikmati bait-bait selanjutnya lagu itu,
Stand by your man
Give him two arms to cling to
And something warm to come to
When nights are cold and lonely
Stand by your man
And show the world you love him
Keep givin all the love you can
Stand by your man....
"Bu, aku turun disini bu !" Pintaku saat tiba di depan jalan masuk rumahku.
"Oya sudah sampai ternyata...." Ibu Widya kemudian menyetop mobilnya di pingir jalan. Aku mengucapkan terima kasih padanya sambil melambaikan tangan. Mobil itu berlalu meninggalkan deru asap yang menimpaku. Seorang seperti ibu Widya hanya satu dari sekian perempuan yang tetap tegar melalui kehidupan sebagai single parent. Semoga ia mampu tetap berdiri di samping ayah dari anak-anaknya saat Zena menikah nanti, meski hanya beberapa saat saja dan mungkin menyakitkan baginya tapi harus tetap dilakukannya. Berdiri disamping orang yang dicintainya sekaligus dibencinya karena telah memilih perempuan lain. Ya semoga....!
Selasa, Mei 03, 2011
Jumat, November 05, 2010
To where you are…
Who can say for certain
Maybe you're still here
I feel you all around me
Your memories so clear
Deep in the stillness
I can hear you speak
You're still an inspiration
Can it be
That you are mine
Forever love
And you are watching over me from up above
Fly me up to where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile to know you're there
A breath away's not far
To where you are
Are you gently sleeping
Here inside my dream
And isn't faith believing
All power can't be seen
As my heart holds you
Just one beat away
I cherish all you gave me everyday
'Cause you are mine
Forever love
Watching me from up above
And I believe
That angels breathe
And that love will live on and never leave
Fly me up
To where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile
To know you're there
A breath away's not far
To where you are
I know you're there
A breath away's not far
To where you are…
Air mata Rani tiba-tiba tumpah, setelah mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Josh Groban ini. Entah kenapa lirik lagu yang ditulis oleh Linda Thompson dan musiknya dikerjakan oleh Richard Marx sungguh membekas di hatinya. Sambil tetap menyetir mobilnya, tetes air matanya membasahi pipi. Hatinya benar-benar galau.
“ Mommy, why do you cryng?” Tanya Cello, anak Rani berusia 8 tahun.
“Nothing, dear !” Rani berusaha menutupi gundah hatinya.
“But I see your tears mommy, what happening with you ?”
Pertanyaan bocah kecil itu semakin membuatnya menangis.
“I feel alone, my son !”
“Don’t cryng mommy, I’m here with u mom ! And God with us too…!”
Bagaimana bisa bocah ini bisa berkata demikian? Sungguh menguatkan sangat menguatkan Rani. Benar kata Cello kita tidak pernah sendiri. Masih ada orang-orang yang mencintai kita yang berada sangat dekat dengan kita. Kalau pun tidak ada, harusnya kita tahu bahwa ada ‘seseorang’ diatas sana yang memperhatikan. Terima kasih untuk lagu ini bagi semua yang ikut serta dalam menciptakan lagu ini…sungguh makna kata-katanya dalam banget, dan member kekuatan bagi yang mendengarnya. I know you're there , A breath away's not far , To where you are…
Maybe you're still here
I feel you all around me
Your memories so clear
Deep in the stillness
I can hear you speak
You're still an inspiration
Can it be
That you are mine
Forever love
And you are watching over me from up above
Fly me up to where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile to know you're there
A breath away's not far
To where you are
Are you gently sleeping
Here inside my dream
And isn't faith believing
All power can't be seen
As my heart holds you
Just one beat away
I cherish all you gave me everyday
'Cause you are mine
Forever love
Watching me from up above
And I believe
That angels breathe
And that love will live on and never leave
Fly me up
To where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile
To know you're there
A breath away's not far
To where you are
I know you're there
A breath away's not far
To where you are…
Air mata Rani tiba-tiba tumpah, setelah mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Josh Groban ini. Entah kenapa lirik lagu yang ditulis oleh Linda Thompson dan musiknya dikerjakan oleh Richard Marx sungguh membekas di hatinya. Sambil tetap menyetir mobilnya, tetes air matanya membasahi pipi. Hatinya benar-benar galau.
“ Mommy, why do you cryng?” Tanya Cello, anak Rani berusia 8 tahun.
“Nothing, dear !” Rani berusaha menutupi gundah hatinya.
“But I see your tears mommy, what happening with you ?”
Pertanyaan bocah kecil itu semakin membuatnya menangis.
“I feel alone, my son !”
“Don’t cryng mommy, I’m here with u mom ! And God with us too…!”
Bagaimana bisa bocah ini bisa berkata demikian? Sungguh menguatkan sangat menguatkan Rani. Benar kata Cello kita tidak pernah sendiri. Masih ada orang-orang yang mencintai kita yang berada sangat dekat dengan kita. Kalau pun tidak ada, harusnya kita tahu bahwa ada ‘seseorang’ diatas sana yang memperhatikan. Terima kasih untuk lagu ini bagi semua yang ikut serta dalam menciptakan lagu ini…sungguh makna kata-katanya dalam banget, dan member kekuatan bagi yang mendengarnya. I know you're there , A breath away's not far , To where you are…
Senin, Agustus 16, 2010
Doa Seorang Kaka

Ini kali ketiga Kaka bertemu dengan orang itu. Seorang pria paruh baya, dengan tubuh tidak terlalu tinggi, dan sedikit gemuk, sebagian rambutnya sudah beruban, warna kulitnya sawo matang. Dia begitu kebapakan dengan safari yang dikenakannya. Namanya Pak Olan.
“Kamu sudah pindah di kota ini ya Ka?” Tanya Pak Olan pada Kaka sesaat setelah mereka bertemu untuk yang ketiga kalinya.
“Iya Pak. Hampir setahun saya pindah pak.” Jawab Kaka.
Kaka menatap dalam wajah Pak Olan yang sudah Nampak keriput. Sepertinya tidak lama lagi orang yang berdiri di depannya ini memasuki masa pensiun. Kaka teringat beberapa tahun lalu saat ia melamar pekerjaan di perusahaan dimana sekarang ia bekerja, pak Olan merupakan salah satu dewan direksi yang akan mewawancarai Kaka untuk mengetahui kemampuan Kaka dalam bidang kerja yang dia lamar. Di situlah pertama kali Kaka bertemu dengan pak Olan. Wawancara itu berhasil Kaka lewati dengan hasil yang sangat memuaskan. Kaka diterima bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi tersebut. Waktu itu Pak olan belum terlalu tua seperti sekarang. Kali kedua, Kaka bertemu lagi dengan pak Olan pada saat dia mengikuti training selama 2 bulan di Jakarta. Waktu itu semua karyawan yang diterima bekerja diwajibkan mengikuti training.
“Kaka, kamu dicari tu tadi sama seorang bapak!” Kata Ida, teman kantor Kaka
“Seorang Bapak?”Tanya Kaka penuh selidik. Kaka tidak merasa mengenal seseorang di Jakarta. Apalagi memberitahu kepada orang lain kalau dia sedang mengikuti training di Jakarta.
“Iya tuh bapak yang pakai baju biru itu” tunjuk Ida ke arah orang yang dimaksud.
“Siapa ya?” Tanya Kaka lagi penasaran.
“Kalau tidak salah bapak itu yang interview kita waktu masuk kerja dulu” jelas Ida lagi.
“O...iya…aku ingat…itu Pak Olan.” Teriak Kaka sambil berlari berusaha memburu Pak Olan yang sudah hamper keluar dari ruangan.
“Pak! Pak!Pak Olan!” Teriak Kaka. Pak Olan pun menoleh sambil tersenyum.
“Bapak nyari saya?Saya Kaka pak!”
“Iya…saya memang ke sini sengaja untuk mencarimu Kaka.” Jelas Pak Olan lagi.
“Emang ada apa Pak?”Tanya Kaka penasaran. Sejak wawancara terakhir perekrutan karyawan dulu. Kaka tidak pernah lagi bertemu dengan Pak Olan. Dan tiba-tiba Pak Olan mencarinya. Ada apa gerangan?
“Tidak ada apa-apa, hanya saja saya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu Ka.”
“Tentang apa Pak?”
“Bahwa bekerjalah semaksimal mungkin di perusahaan ini.” Kata Pak Olan sambil menyentuh bahu Kaka.
“Pastilah pak! Saya akan bekerja dengan baik disini. Apalagi saya sadar saya diterima di perusahaan ini diantara ribuan pelamar.Itu merupakan anugerah bagi saya Pak.”jelas Kaka.
“Kamu tahu nilaimu berapa saat lulus kemaren?”Tanya pak Olan.
“Wah…mana saya tahu Pak?Saya lolos disini saja, saya sudah bersyukur. Saya tidak pernah berpikir nilainya berapa.”
“Nilaimu tertinggi Kaka!” Kata pak Olan
“Apa kata Bapak?” Kaka terperanjan nyaris limbung
“Iya nilai kamu paling tinggi daris emua pelamar. Artinya kamu betul2-betul orang yang tepat untuk bekerja di perusahaan ini. Makanya bapak selalu pesan agar kamu bekerja dengan baik. Karena kamu memang sudah punya modal awal yang sangat menentukan.
“Apalah artinya nilai tinggi itu Pak?Toh semua yang diterima juga pintar dan cerdas pak?”Kaka berusaha merenda.
“Memang betul, tapi hasil itulah yang selalu menjadi patokan penilai untuk menerima seseorang bekerja di sebuah perusahaan.”
“Iya pak…pesan bapak saya akan selalu ingat.Terima Kasih pak !”
“Bagaimana rasanya setelah pindah di kota yang baru lagi” Pertanyaan Pak Olan membuyarkan lamunan Kaka seketika.
“Ya…asik juga pak, ada pengalaman baru” Jawab Kaka sekenanya.
“Masih ingat pesan bapak beberapa tahun lalu?tanya Pak Olan lagi.
“Masih Pak, saya akan selalu mengingatnya!”
“Syukurlah ! Ingatlah bahwa kau adalah satu dari yang terbaik untuk perusahaan ini. Jadi jangan sia-siakan apa yang kau sudah raih.Teruslah berbekerja dan berkarya dengan sebaik mungkin. Tunjukkanlah prestasimu. Dan iklaslah dalam bekerja. Lakukannya dengan penuh tanggung jawab yang tinggi semua apa yang menjadi kewajibanmu. Karena Tuhan sudah menempatkan kau di situ. Dari situ kau akan menemukan kenikmatan dalam bekerja.”
“Iya pak. Saya akan lakukan semampuku.”
Betul kata pak Olan, batin Kaka. Bahwa ia ada di dalam pekerjaan ini bukanlah sesuatu kebetulan, tetapi karena sudah direncanakan oleh Tuhan. Apalagi dengan nilai yang paling tertinggi di antara pelamar lainnya. Itu bukan hal yang boleh disepelekan. Tetapi menjadi hal yang harus diperhitungkan. Bahwa orang-orang yang terbaik yang ditempatkan di perusahaan-perusahaan terbaik, dan juga harus melaksanakan tanggungjawab yang juga yang terbaik. “Terima kasih Tuhan untuk pekerjaaan yang sudah dititipkan buatku. Terima kasih karena Tuhan sudah memberiku kesempatan untuk bekerja disini. Dan biarkan aku melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, untuk bangsa ini, untuk Negara ini dengan seizin Tuhan.Amin” Itulah doa seorang Kaka….
Selasa, Juni 29, 2010
Dari O km RI-PNG sampai ke Tanah Miring
Suatu kali di bulan Juni 2010, dalam sebuah urusan pekerjaan saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi tanah Papua. Tepatnya di kabupaten Merauke yang nama ibu kotanya juga bernama Merauke. Perjalanan menuju kota ini di tempuh selama kurang lebih 4 jam dari kota Makassar. Dengan menggunakan pesawat Merpati, saya berangkat dari Makassar pukul 1.30 dini hari. Pesawat yang kutumpangi sempat transit selama 30 menit di kota Jayapura sekitar pukul jam 8 pagi dan kemudian melanjutkan penerbangan ke kota Merauke. Tiba di kota ini hampir jam 10 pagi. Saya sangat beruntung meski kota ini letaknya sangat jauh di ujung Timur Indonesia, tetapi masih ada saja kerabat yang saya kenal tinggal di sana. Dia pun menjemput saya di Bandara Mopah dan membawaku ke Hotel Nirmala, yang letaknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 10 menit dari bandara. Meski ini kali pertama saya menginjakkan kaki di kota Merauke, namun sudah bisa kusimpulkan bahwa wilayah kota ini tidak terlalu luas. Karena jarak tempuhnya dari satu tempat ke tempat lainnya di dalam kota relatif tidak terlalu jauh. Dan kebetulan hotel tempatku penginap tertelak di jalan Raya Mandala. Jalan yang merupakan jalan utama dan merupakan pusat kota di Merauke. Dan benar adanya, setelah saya mencoba berkeliling kota dengan menggunakan angkot yang disebut dengan taxi, tidak sampai setengah jam saya sudah tiba kembali di tempat awal saya pertama naik taksi. Artinya kota ini sangat kecil, dan kalau kuat bisa saja berkeliling kota dengan berjalan kaki. Sayang sekali, suhu di kota ini sangat panas menyengat apalagi di siang bolong, sehingga sangat tidak mungkin kita berjalan kaki (kecuali nekad). Kota ini juga banyak dihuni oleh para pendatang khususnya suku Bugis Makassar, dan Jawa.Merauke adalah kota yang paling selatan di Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Disebabkan oleh jaraknya yang dekat dengan Australia, sehingga terdapat kesamaan karakteristik alam dataran kering. Di sekitar Merauke terdapat savana, pohon kayu putih dan kangguru mengingatkan kita kepada Benua Australia. Pohon Sagu, yang merupakan sumber kebutuhan pokok, tumbuh disekitar sungai dan rawa. Merauke sendiri sangat berdebu dan panas. Turis seringkali pergi ke Merauke untuk pergi ke Asmat dengan kapal dan pesawat atau melakukan perjalanan ke kali Bian dan kali Maro. Pada level air tertentu (air pasang), kali maro akan terhubung dengan Tanah Merah, dimana Belanda mengasingkan Soekarno sebagi tahanan politik. Daerah-daerahnya berada diwilayah rendah, dan berliku-liku dan banyak sungai dan perbukitan disebelah utara yaitu pegungan jayawijaya. Pada Wilayah-wilayah pesisir pantai terdapat pohon bakau dengan pantai yang berlumpur. Merauke merupakan ibukota dari kabupaten merauke. Jumlah penduduk merauke terdiri dari 17 suku setempat dengan perbedaan bahasa dan kebudayaan. Suku-sukunya antara lain: Marind, Moraori, Kanum, Yei, Kimaam, Muyu, Mandobo, Jair, Kuruwai, Kombai, Citak, Mitak. Yaghai, Awyu, Asmat, Wiyagar and Yelmek. yang dari ke17 suku yang terdapat dikabupaten merauke ini marindlah yang merupakan suku asli yang memiliki kota merauke. Disamping itu banyak suku dari daerah lain (http://students.ukdw.ac.id/~22012777/File/kota.html).
Setelah urusan kantor selesai, seorang teman mengajakku ke perbatasan RI dan Papua Nugini (PNG). Ini merupakan kesempatan emas bagiku. Karena memang saya ingin sekali bisa sampai ke perbatasan. Apalagi untuk sampai di situ harus menyewa kendaraan atau menggunakan kendaraan pribadi. Karena tidak ada angkutan umum menuju ke wilayah itu. Mumpung ada tawaran gratis, ya… disambar saja. Iya kan? Hari itu hari Sabtu saat kita berangkat ke Sota, perbatasan RI- PNG. Sepanjang jalan menuju tempat itu hanya ada rawa dan hutan. Kita juga akan melewati kawasan hutan lindung. Kalau beruntung kita bisa saja berjumpa dengan Kanguru, hewan khas Australia yang juga banyak hidup di daerah ini. Sayang sekali kita tidak sempat bertemu hewan ini. Perjalanan kita sempat terganggu oleh perbaikan jalan. Tapi hal itu tidak membuat kita berputus asa untuk terus melanjutkan perjalanan sekitar 2 jam dengan jarak tempuh sekitar 90 km. Sebelum masuk ke daerah perbatasan terdapat sebuah sekolah SMK. Anak-anak warga negara PNG ada juga yang bersekolah di sana. Mengingat jarak tempuh ke sekolah itu cukup dekat dari Negara mereka. Setelah berjalan beberapa meter lagi, kita akan menemui sebuah pasar tradisional. Warga PNG juga sering berbelanja kebutuhan hidup mereka di pasar ini. Alat tukarnya bisa dalam bentuk rupiah, dollar Australia atau kina (obat anti penyakit malaria). Unik juga ya…!
Sota merupakan nama distrik/kecamatan yang letaknya di berbatasan langsung dengan PNG. Di wilayah ini pula, markas Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri berdiri. Tidak heran, karena wilayah ini merupakan wilayah perbatasan 2 negara, sehingga sistem keamanannya sangat diperketat dengan adanya aparat keamanan di mana-mana. Sebelum mencapai daerah perbatasan, kita akan bertemu dengan tugu kembar dengan Sabang. Tugu ini hanya ada dua di Indonesia. Satunya berada di Sabang. Setelah itu kita akan melewati gerbang perbatasan yang bertuliskan ‘Good bye, see you anotherday’, itu artinya sesaat lagi kita akan meninggalkan wilayah RI. Saya pun akhirnya sampai di tugu perbatasan RI-PNG, 0 kilo meter. Di sisi dalam tugu yang mengarah ke wilayah RI bertuliskan‘Team Survey Indon’, sedangkan sisi tugu disebelahnya bertuliskan ‘Aust Survey Team’. Di sisi lain dinding tugu bertuliskan 141 1’ 10”E , 8° 25° 45° S, 23 8 63. Sekitar 200 meter dari letak tugu merupakan tanah ‘tidak bertuan’ yang menandakan daerah perbatasan antar 2 negara. Dan selepas itu, kita akan memasuki kawasan Negara PNG.
Merauke juga sangat terkenal dengan rumah semutnya. Bayangkan saja, rumah semut itu dibangun dari gumpalan tanah oleh hewan-hewan kecil ini sampai setinggi 3 meter dengan lingkar mencapai kurang lebih 1 meter. Saya takjub saja melihat bangunan ini. Konon, setelah rumahnya selesai dibangun, hewan-hewan ini akan berpindah lagi mencari kawasan lain, dan mulai lagi membangun rumahnya yang baru (seperti kontraktor ysaja a?). Rumah semut yang masih baru, dapat dilihat dari dindingnya yang masih berwarna coklat kemerah-merahan, sedangkan rumah yang sudah tua, warnanya lebih kehitam-hitaman, seperti batang pohon yang sudah usang dan lapuk.Setelah puas berkeliling dan tentunya berfoto-foto, saya pun meninggalkan lokasi perbatasan ini kembali ke kota Merauke. Keesokan harinya, perjalanan sya lanjutkan ke wilayah Tanah Miring. Untuk menuju tempat ini, kita akan melewati jembatan yang menghubungkan kota Merauke dengan wilayah tersebut. Di daerah ini terkenal dengan wilayah transmigrasi. Lahan-lahan kosong di bangun rumah untuk para transmigran dari pulau Jawa. Di sepanjang jalan di Tanah miring ini banyak terhampar sawah yang baru akan ditanami padi. Dan dipinggir-pinggir jalannya, para transmigran membuka warung-warung kecil menjual jagung bakar, kripik ketela dan es kelapa muda. Saya pun mencoba singgah di salah satu warung warga yang menjual jagung bakar. Wah…asik juga di siang-siang bolong begini menikmati jagung bakar sambil menyeruput es kelapa muda. Sayang saya tidak sempat merasakan nikmatnya es kelapa muda karena konon air kelapa dapat mematikan kuman-kuman dalam tubuh, jika sudah demikian, malaria dengan mudahnya juga akan menyerang tubuh. Hehehe…daripada saya terserang Malaria di daerahnya orang, mending saya menghindari. Oya cara makan jagungnya juga beda disini. Pedagang sengaja menyiapkan piring dan pisau untuk penyisir jagung dari tongkolnya. Setelah itu tumpu
kan sisiran jagung di atas piring tersebut dibubuhi saus sambal yang sudah tersedia. Nah…barulah jagung bakar ini di santap tentu dengan menggunakan sendok. Unik kan? Setelah puas menyantap jagung, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi SP (Sektor Pemukiman) 9. Di sana terdapat bangunan Patung ‘Pembebasan Irian Barat’. Patung ini merupakan patung Jendral LB Moerdani dengan parasutnya. Konon dimana patung itu di bangun, disitulah tanah Papua pertama kali diinjak oleh jendral Moerdani pada saat hendak melakukan pembebasan Irian Barat.Nah perjalanan mengelilingi kota Meauke dan sekitarnya berakhir disini. Saya pun kembali ke Makassar dengan senang. Karena sudah berhasil mengunjungi tempat-tempat bersejarah di tanah Papua ini. Semoga di lain waktu bisa dating lagi ke kota Merauke !(ij)
Selasa, Desember 01, 2009
Buku : Tips Praktis bagi Wanita Hamil
Buku ini di tulis oleh Itha Juditha & Ida Ch, telah beredar dan di jual di Toko Buku Gramedia dan Toko Buku Graha Media harga Rp. 35.000,-Tidak ada yang berharap akan menjalani masa kehamilan dengan penuh keluhan. Semua perempuan ingin tetap tampil cantik, tidak 'melar', tidak memiliki kesulitan dan semua berjalan normal sebelum dan sesudah kehamilan. Namun siapa yang bisa menjamin?
Andalah yang akan menjaminnya : bila Anda mempersiapkan mental dan fisik dengan baik, melakukan olahraga yang tepat dan merawat tubuh dengan bijak. Buku ini akan sangat membantu Anda menjaga kepercayaan diri yang telah tertanam dalam diri Anda. Bukan hanya cocok bagi ibu hamil agar bisa menjalani masa kehamilan dengan gembira, namun juga akan membantu keluarga agar bisa memahami gejala yang dialami oleh ibu yang menjalani masa kehamilan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Kumpulan Artikel
'........melihat, mengamati,merasakan, dan menuangkannya dalam tulisan.....'