Senin, Februari 02, 2015

Cintai Pekerjaan,Menyelamlah di Dalamnya, Konsisten dan Ikhlas dengan itu !

Sungguh, kaget mendengar dan melihat hasil evaluasi kerja disampaikan oleh bagian HRD kepadaku. Aku dinyatakan sebagai karyawan dengan nilai evaluasi tertinggi? Masak iya sih?Seorang Kaka bisa meraih itu? Padahal jujur tidak pernah ada target sebegitu dasyatnya. Bagiku yang terpenting bisa capai target sesuai yang ditetapkan di awal tahun, kalo pun hasilnya lebih...itu bonuslah. Tapi tak mengapa, yang penting aku sudah bekerja semaksimal mungkin.

Bicara tentang target kerja, pastilah semua pekerja punya target. Kita sudah diwanti-wanti sejak awal untuk melaksanakan ini ini dan ini. Targetnya bisa tercapai semua. Nah yang bagus dari pengalaman ini adalah, target itu melampaui dari apa yang disusun di awal tahun. Pastilah hal ini berimbas pada 'bonus' bulanan...dan itu yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Bagiku hanya kerja kerja kerja (waduh....sudah terkontaminasi dengan kabinetnya Jokowi nee). Tapi bener, bagiku bisa bekerja semaksimal mungkin, ga ada kata g ada kerjaan....tidak mungkin itu.

Teringat lagi bagiku cerita dengan pak Olan (ada juga di blog ini kok), lagi-lagi itulah yang menjadi dasarku untuk terus memberi sumbangsih yang berarti bagi siapapun, negeri ini, perusahan ini, masyarakat ini. Mungkin agak klise ya...atau seperti mengawang-ngawang....tapi yakinlah setiap apa yang kita kerjakan apalagi dengan sungguh-sungguh akan memberi sumbangsih yang baik juga bagi orang lain. Kuncinya cuma satu, cintai pekerjaan itu, menyelamlah di dalamnya dan konsisten serta ikhlas dengan itu. Niscaya itu akan mendatangkan prestasi. Selamat berkarya di bidang masing-masing !

Habis dicecar Tugas Lagi.....semangat !!!


Kamis, April 24, 2014

A Right Man in A Right Place

Teringat mantan bos-ku beberapa tahun yang lalu pernah bertanya begini padaku :
"Punya tulisan gak untuk dikirim ke kompetisi penelitian ilmiah?"
"Tidak punya Pak." Jawabku.
"Kok g punya? Harus punya dong?"
"Aku tidak penulis tahun ini pak?"
"Lah...kamu itu kan penulis, peneliti harus bisa terus menulis !"
"Aku gak punya bahan pak?"
"Lho, asah otakmu, banyak membaca, seorang penulis harus selalu punya banyak ide !"

Aku hanya menlongo waktu itu, dalam hati berkata, apa iya aku bisa terus menulis, terus meneliti? Sementara otakku terasa buntu. Pekerjaan sebagai seorang peneliti membuatku hampir sampai pada titik jenuh.Apalagi harus meneliti sendiri seperti kata bosku? Rasanya jauh panggang dari api.

Terus terang aku hanya berharap penelitian besar yang dilakukan oleh kantorku. Dari situ maka baru tergeraklah aku menulis. Jika tidak ada itu mungkin aku juga akan stagnan. Hanya melihat, melihat dan tidak melakukan apa-apa.

Hingga pada satu masa dimana aku berpikir jika aku terus begini, maka aku tak akan bisa menghasilkan apa-apa. Bukankan seorang peneliti harus terus berinovasi, kreatif dan full imajinasi. Begitu banyak masalah yang harus dijawab dengan melakukan penelitian?

Ok baiklah. Saat itu ada semacam titik tolak aku mulai mengamati sekeliling. Aku mulai menemukan begitu banyak masalah yang perlu dijawab dengan penelitian. Begitu banyak harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan membuatku harus bisa merumuskan masalah dan kemudian menjawabnya. Sungguh aku mulai mengikuti ritme perilaku itu, mengamati, mendapatkan rumusan, menulisnya, menyusunnya, mengkodingnya dan akhirnya menghasilkan sebuah hasil penelitian. Mungkin pikirku waktu itu, itu hanya sesuatu yang sederhana yang kubuat. Tapi setelah hasil tulisan itu dimuat dibeberapa jurnal ilmiah yang juga terkoneksi secara online, aku banyak mendapatkan email dari orang-orang yang sama yang ingin melakukan penelitian yang mirip-pirip dengan apa yang sudah kulakukan. Mereka minta saran, diskusi atau sekedar menunjukkan konsep-konsep mereka.

Dari situ aku mulai merasa bahwa aku sudah larut dalam pekerjaan ini. Dan aku merasa berada pada suatu tempat yang sangat menyenangkan. Aku menikmatinya dengan sangat. Bagiku apa yang kulakukan ini paling tidak bisa menjadi bahan referensi bagi orang lain. Dan aku mulai merasa berguna bagi sesama. Benar juga kata mantan bos ku itu, bahwa aku harus terus- terus mengasah otak dan kemampuanku. Bahwa seorang peneiti tidak harus mentok. Tapi sebaliknya penuh perubahan penuh inovasi kreatif dan bla bla bla...

Tahun lalu, ketika aku mencoba mendata sudah berapa banyak tulisan hasi penelitian yang dibuat sepanjang tahun itu. Maka aku sendiri terkejut dibuatnya. Tidak percaya, karena telah menghasilkan 13 karya tulis itu sudah termasuk tesisku. Aku merasa diberika tantenta olehNya untuk berada dipekerjaan ini. Dan aku wajib mempertanggungjawabkannya kepadaNya.

Tahun ini, 4 bulan sudah berlalu, dan aku sudah menulis 8 KTI. Semuanya sudah dimuat di jurnal ilmiah dan aku tinggal tunggu dikirimi jurnalnya. Tuhan...terimakasih untuk kesempatan ini, terimakasih untuk talenta yang diberikan buatku. Biarkan aku tetap memiliki ini untuk memberi sumbangsih yang berharga buat dunia khususnya di bidang penelitian. Aku  merasa Tuhan telah  memilihku untuk ditempatkan pada tempat yang tepat. A Right Man in a Right Place. Thaks God !

Raching 25, ketika senja mulai turun...



Selasa, September 17, 2013

Omong Kosong !!

Dulu kamu bilang : "Katakan tidak untuk KORUPSI !!!"  Berkali-kali kamu katakan itu....Tapi nyatanya apa yang terjadi? Justru kamu orang  pertama yang melakukan itu....! Kamu orang pertama yang masuk penjara... Sedih !

Dulu kamu rajinnnnn banget turun ke jalan, sambil teriak : "Aku benci KORUPTOR !" Jalan-jalan kamu tutup dengan ban-ban yang dibakar menggumpalkan asap-asap sambil kamu menyanyikan yel-yel : "Gantung para KORUPTOR !!!" Nyatanya??? Justru kamu yang paling sering nyontek kalau ujian di kampus, justru kamu juga yang "Nitip Absen" kalo kamu gak bisa masuk kuliah, tapi lebih milih turun ke jalan yang katanya 'menyuarakan hati nurani rakyat'. Miris !!!

Dulu dalam diskusi-diskusimu kamu sering bilang : "Kampret tuh parah KORUPTOR !! Mau jadi apa bangsa ini jika semua dipenuhi oleh perampok??" Berulang-ulang kamu katakan itu.....tapi nyatanya?? Justru kamu yang juga menyogok puluhan juta rupiah saat mau masuk kerja sebagai abdi negara. Ironi !!!

Dulu kamu bilang : "Rakyat sudah muak dikibuli dan dirampok oleh tikus-tikus jahanam !!!" Nyatanya??? justru kamu melakukan 'serangan fajar' menyuap rakyat dengan sembako 1 plastik dengan harapan kamu dipilih sebagai kades ? Capek !!!

Dulu kamu bilang : " Basmi KORUPSI di negeri ini!!!" Nyatanya??? kamu orang pertama yang melakukan pemalsuan kwitansi untuk sebuah perjalanan dinas di kantormu. Mhh....! 

Dan banyak sekali kata-katamu, kalimat-kalimatmu anti KORUPSI, seolah kamu ini malaikat utusan dari surga....nyatanya ??? Semua hanya OMONG KOSONG !!! Kamu  sama saja dengan yang lainnya. Mari mengoreksi hati. Supaya kita tidak termasuk "Maling teriak Maling".

@karampuang-siangpanas

Rabu, Juni 12, 2013

Perempuan Berhati Nurani Murni

Siapa yang tidak kenal Angelina Sondagh, Vena Melinda, Inggrid Kansil, Rahel Mariam, Rieke Diah Pitaloka, Wanda Hamidah atau Oki Asokawati ? Mungkin diantara kita akan menjawab mereka adalah artis-artis papan atas Indonesia. Jawaban itu tidaklah salah, tetapi jangan lupa bahwa saat ini kiprah perempuan-perempuan ini juga sebagai anggota legislatif, meski ada diantaranya telah dinonaktifkan karena keterkaitannya dalam kasus korupsi. Kelebihan dari perempuan-perempuan cantik ini karena sebelum menjadi anggota legislatif, masyarakat telah mengenalnya terlebih dahulu di dunia seni. Jika dahulu kehadiran mereka dapat kita saksikan dilayar kaca dengan mempertontonkan keahlian mereka di bidang seni, tetapi kini kita masih dapat menyaksikan mereka juga dilayar kaca tetapi dengan pertunjukan yang berbeda yaitu menyuarakan aspirasi masyarakat dibawa naungan partai dimana mereka menjadi kader.

Perempuan-perempuan yang berkiprah dilegislatif, tidak semata hanya dari kalangan artis saja, tetapi banyak juga dari kalangan orang biasa. Bahkan dari tahun ke tahun quota legislatif untuk perempuan terus bertambah. Jika dalam pemilu tahun 1999, jumlah keterwakilan perempuan hanya sebesar 9% saja, tetapi pada tahun 2004 meningkat menjadi 101 orang, atau hanya 11%. Kemudian pada pemilu berikutnya yaitu pada tahun 2009 persentasi ini naik sebanyak 6%  menjadi 17 %. Meski saat itu, digadang-gadang bahwa keterwakilan perempuan di parlemen mencapai 30% tetapi pada kenyataannya hal tersebut tidak tercapai. 

Apapun alasan tidak sampainya kuota tersebut untuk kaum hawa, cerita lain bahwa perempuan telah menjadi bagian penting bagi sejarah parlemen di Indonesia. Dalam proses demokrasi di negara ini, persoalan partisipasi perempuan juga merupakan prasyarat mutlak bagi terwujudnya demokrasi yang lebih bermakna di Indonesia. Selain itu meningkatnya kesempatan bagi perempuan Indonesia untuk berpartisipasi dalam politik sesuai dengan amanat Undang-Undang No,31 Tahun 2002 tentang Partau Politik dan Undang-Undang No.12 tahun 2003 tentang Pemilu. Ini berindikasi bahwa perempuan dapat berkarya dan partisipasi dalam segala bidang termasuk di legislatif.

Dalam sejarah peradaban manusia, perempuan selalu menjadi warga negara kelas dua (minoritas) meski dalam kuantitatif jumlah penduduk dunia, perempuan merupakan posisi pertama. Bahkan dalam budaya, perempuan selalu diidentikkan hanya sebagai pelengkap penderita bagi kaum laki-laki. Namun perjuangan kaum feminis untuk mengangkat derajat kaum perempuan tidak pernah berhenti, sehingga menempatkan perempuan pada posisi yang sama dengan laki-laki sekaligus juga sebagai penentu keputusan penting. Ini bisa terlihat dari banyaknya perempuan yang berkarier dan menempati posisi-posisi penting dalam sebuah institusi. Bahkan dalam pmerintahan (eksekutif), yudikatif hingga legislatif, ‘perempuan’ bukan lagi kaum yang ‘aneh’ di tempat-tempat tersebut. Artinya kini perempuan telah diakui ‘setara’ dengan kaum laki-laki. Badan dunia Inter Parliamentary Union (IPU) mencatat bahwa sebanyak 19,1% anggota parlemen adalah perempuan (akhir tahun 2010). Hal ini sebenarnya merupakan progres yang dinilai lambat karena 10 tahun yang lalu yaitu tahun 2000 keterwakilan perempuan dalam legislatif sudah diangka 13%. Tetapi sebanyak 43 parlemen telah memenuhi target PBB untuk memiliki 30% anggota perempuan. Sementara dua negara telah memiliki kepala parlemen perempuan untuk pertama kalinya yaitu Mozambigue dan Tanzania (sumber:www.dpr-ri-berita).

Tetapi yang kemudian menjadi pertanyaan penting adalah seberapa jauh peran perempuan tersebut dalam legislatif? Apakah karena jaman telah menuntut keterwakilan perempuan sehingga perempuan itu harus ada, ataukah kehadiran mereka tersebut seharusnya bisa memberikan sumbangsi positif bagi pembangunan bangsa? Besar atau kecilnya secara kuantitatif keterwakilan perempuan pada parlemen bisa jadi menjadi persoalan dalam penentuan suara, hanya saja yang terpenting adalah jika perempuan yang ‘hadir’ disitu benar-benar sebagai perempuan yang bisa “bersuara”. Karena itu sangat dibutuhkan perempuan yang memiliki kualitas, baik dari segi intelektual maupun skill. Karena bagaimana pun juga peranan kaum ini bagaikan saluran air yang telah terbuka lebar sehingga perjuangan akan lebih mudah dilakukan untuk dapat sampai pada posisi ‘melawan’ patriaki terutama dalam keputusan-keputusan penting dalam sidang-sidang baik di komisi maupun paripurna. Kaum perempuan juga wajib memiliki suara vokal dan kritis untuk setiap persoalan yang dibahas. Dan tentunya hal ini tidak dapat diperoleh dalam waktu yang singkat.Diperlukan pembelajaran yang panjang baik secara formal maupun non formal. 

Kehadiran perempuan di parlemen bukan saja karena “latah” atau karena sudah memiliki nama yang tenar terlebih dahulu, atau memang karena ingin mencari pekerjaan karena tergiur dengan gaji yang tinggi. Apapun alasan motivasi, kembali lagi bahwa orang-orang yang duduk diparlemen (khususnya perempuan) sepantasnya adalah orang-orang yang bermutu. Bermutu tidak hanya dalam taraf intelektual dan skill tetapi juga bermutu dalam hal mental. 

Mengapa demikian? Karena berkarya di parlemen, sama saja berkarya di tempat kerja lainnya. Pasti dituntut ada hasil kerja yang memuaskan, ada tekanan-tekanan pekerjaan. Dan hanya membedakan karena dilegislatif, seluruh masyarakat Indonesia yang akan menjadi ‘hakim’ bagi setiap anggota parlemen untuk apa yang sudah mereka kerjakan. Disamping itu perempuan juga sangat rentan untuk diposisikan pada tempat yang tidak nyaman alias intrik-intrik yang penuh dengan tekanan. Contoh kasus Angelina Sondagh dan Waode, dua perempuan mantan legislatif yang terlibat kasus korupsi yang sedang menjalani putusan pengadilan. Mungkin kebetulan saja mereka adalah perempuan, tetapi pengalaman ini hendaklah bisa menjadi pembelajaran berharga bagi legislatif perempuan lainnya untuk tetap berjalan pada koridor yang benar sekalipun harus meng’hianati’ partai. Sulit memang, tetapi itulah sebuah perjuangan yang sesungguhnya. Karena saat ini Indonesia membutuhkan sosok-sosok yang memiliki hati nurani yang murni untuk perjuangan bangsa dan negara. Semoga itu masih ada. Maju terus perempuan-perempuan Indonesia (IJ).

Senin, Juni 03, 2013

Arti Sebuah Penolakan

Setiap ke gedung ini, badanku selalu lemas. Pulangnya juga pasti lemas. Entah mengapa. Bayang-bayang penolakan selalu saja menghantui. Penolakan tidak diterima. Sungguh...menyakitkan sekali jika kita ditolak. Dalam hal apapun. mulai dari saat dari dalam orok.Kadang ada yang menolaknya. Akhirnya kalauer pun tetap hidup namun efek sampingnya tetap terasa bagi orok itu setelah tumbuh menjadi manusia. Ditolak saat melamar pekerjaan, ditolak orang yang dinaksir, di tolak saat pengajuan judul tesis, ditolak dosen pembimbing, serta banyak penolakan-penolakan lainnya membuat kadang kita menjadi frustasi. Meski kadang jika sudah mengalami hal itu hanya kata ‘sabar’ saja yang kita kerap dengar. Masalahnya telinga ini sudah sering mendengar kata-kata itu.

Jujur, orang yang tidak mengalami masalah seperti yang kita alami, pasti mudah mengatakan kata sabar, semua ada hikmahnya. Harus tetap semangat, bla bla bla....Tapi bagi yang mengalami, untuk bangkit dari sebuah penolakan yang maha dasyat saja susahnya maha dasyat juga. Butuh ekstra kuat, hati kuat, jiwa kuat dan semuanya harus kuat. Karena untuk sebuah pemulihan hati butuh waktu yang tidak instan. Kadang jika ingat lagi masalah itu, hati mulai sakit lagi. Ya itulah hati manusia yang terbuat dari kristal, retak sedikit, akan sulit memperbaikinya, apalagi jika sampai pecah???

Tetapi, kembali lagi jangan putus asa kawan. Yakinlah bahwa setiap masalah diizinkan terjadi oleh Sang Kuasa untuk mendatangkan kebaikan. Ya tidak ada sesuatu yang tidak baik yang kita alami tanpa sesuatu yang baik di baliknya. Suatu masa kita akan mengerti semuanya.

@Bulaksumur, gerimis.

Kumpulan Artikel

'........melihat, mengamati,merasakan, dan menuangkannya dalam tulisan.....'