Rabu, Oktober 08, 2008

Ngintip Tarsius Yuk !

Libur panjang Idul Fitri kali ini kita berkesempatan ke tempat penangkaran hewan langkah di Taman Penangkaran Hewan Aer Tembaga. Letaknya di kota Bitung, Minahasa Utara. Jalan menuju ke tempat ini menyajikan pemandangan yang sangat indah, karena taman ini berada persis dipinggir pantai. Di lokasi yang cukup tertata rapi ini ada sejumlah hewan langkah yang masih bertahan hidup di tanah Minahasa, Tarsius salah satunya. Kata orang, kalau sampai injak tanah Minahasa, sayang kalau tidak melihat hewan jenis primata ini. Sebenarnya hewan ini banyak hidup di Hutan Tangkoko, sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Bitung. Cukup jauh juga. Dan sesampainya di hutan itu belum tentu kita akan melihat hewan ini di siang hari. Karena mereka baru keluar dari sarangnya atau dapat terlihat pada malam hari, alias mirip-mirip batman or paniki or kelelawar yang memang suka keluar malam alias midnight... Makanya kalau tidak mau capek, and pasti langsung dapat melihatnya mending ke tempat penangkarannya saja. Yuk!

Tarsius adalah suatu jenis primata kecil Tarsius adalah suatu jenis primata kecil yang memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk yang lebar (http://www.wikipedia.com/). Nama Tarsius diambil karena ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar yang digunakan untuk grooming.Yang paling istimewa dari

Tarsius adalah matanya yang besar. Ukuran matanya lebih besar jika dibandingkan besar otaknya sendiri. Mata ini dapat digunakan untuk melihat dengan tajam dalam kegelapan tetapi sebaliknya, hewan ini hampir tidak bisa melihat pada siang hari. Kepala Tarsius dapat memutar hampir 180 derajat baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, seperti burung hantu. Telinga mereka juga dapat digerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa.

Tarsius adalah makhluk nonturnal yang melakukan aktivitas pada malam hari dan tidur pada siang hari. Oleh sebab itu Tarsius berburu pada malam hari. Mangsa mereka yang paling utama adalah serangga seperti kecoa, jangkrik, dan terkadang reptil kecil, burung, dan kelelawar. Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, dan Peleng. Tarsius juga dapat ditemukan di Filipina.Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah.

Hewan lain yang ada di taman penangkaran ini adalah beberapa jenis burung seperti Elang, Perkutut, Kakaktua, Burung Unta, Musang, Buaya, Ular, Yaki (Monyet), Babi Rusa, dll.

Selasa, September 02, 2008

Tayangan Televisi,Lawan Atau Kawan Bagi Anak-Anak Indonesia ?

Bangsa yang maju sangat ditentukan oleh generasi penerus bangsa itu sendiri. Dan generasi penerus itu adalah anak-anak. Namun anak-anak akan sampai ke tahap itu jika dari dini apa yang mereka dengar, lihat dan rasa, ikut memberi andil bagi perkembangan anak-anak. Nah apakah media penyiaran khususnya televisi di Indonesia sudah menjamin dan menjawab masalah ini?

Masa kanak-kanak adalah masa dimana anak-anak berada alam golongan golden age yang merupakan masa penentuan masa depan anak untuk menjadi generasi yang sukses. Pada masa inilah apa yang anak-anak dengar, lihat dan rasakan akan sangat menentukan untuk pencapaian anak ke tahap itu. Karena itu tayangan-tayangan di media televisi seharusnya dapat memberikan peran penting bagi anak apalagi penelitian Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton televisi pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game. Ini adalah jumlah waktu yang terlalu besar untuk hiburan yang kurang sehat bagi anak dan remaja. Dalam setahun, jumlah jam menonton televise ini mencapai lebih dari 1.600 jam. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di sekolah dasar negeri selama setahun yang hanya sekitar 740 jam untuk kelas rendah. Ini berarti waktu mereka banyak tersita untuk tayangan-tayangan televisi.

Anak-anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu mereka untuk menonton televisi akan mempengaruhi prestasi mereka di sekolah. Wajar saja hal ini bisa terjadi karena waktu mereka lebih sedikit untuk berinteraksi dengan orang lain dan termasuk habis waktu untuk mengerjakan PR diberikan oleh sekolah. Anak-anak akan menjadi lebih pasif dan tidak memiliki perhatian yang penuh terhadap pelajaran di sekolah sehingga membuat anak-anak sulit berkonsentrasi dan tidak berusaha keras untuk memecahkan masalah. Sementara hanya sedikit acara-acara televisi yang mengajarkan hal-hal penting seperti berhitung, membaca, ilmu pengetahuan atau pemecahan masalah.

Dari sebuah survey yang dilakukan Metro TV terhadap 100 anak belum lama ini hasilnya menunjukkan bahwa 65 % menjawab sangat menyukai menonton acara Idola Cilik di RCTI. 30 % menjawab suka menonton Naruto (Global TV) dan 5 % menjawab si Entong (TPI). Aalasan mereka menonton idola cilik karena dianggap acara tersebut seru, lagu-lagunya trend, suara sang idola bagus-bagus dan anak-anak terpacu untuk bisa bernyanyi seperti idolanya. Sedangkan alasan mereka menyukai menonton Naruto karena mereka menilai cukup seru dengan adegan laganya. Disamping itu sosok Naruto dinilai lucu dan menggemaskan sehingga membuat anak-anak senang dan terhibur. Sedangkan film si Entong dinilai lucu. Menanggapi hal ini pengamat media, Arswendo Atmowiloto berpendapat, anak-anak yang menyukai acara Idola Cilik wajar saja, karena acara tersebut memang murni untuk menghibur pemirsa. Tetapi melihat anak-anak yang juga menyukai lagu-lagu yang dibawakan idola yang kebanyakan adalah lagu-lagu orang dewasa yang lagi trend saat ini membuat anak-anak juga dipaksa menerima syair-syair lagu yang belum saatnya mereka tahu atau tidak cocok untuk umur-umur seperti mereka. Sedangkan tayangan si Entong juga dinilai Arswendo sebagai tayangan yang kurang bisa mendidik dan tidak sehat. Karena tayangan ini memuat sisi religi namun sebaliknya ada juga sisi tayangan yang tidak masuk akal. Misalnya tiba-tiba ada sosok yang menjadi spiderman dll. Tayangan seperti ini membuat anak tidak bisa melihat mana hal yang fiksi dan mana nyata. Sehingga akan mempengaruhi anak dalam berperilaku dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Dalam survey ini juga ditanyakan apakah dalam menyaksikan siaran televisi anak-anak didampingi orang tua meraka? Hasilnya menyebutkan 70% anak menjawab jarang sekali orangtua mereka mendampingi anak-anak dalam menonton televisi. Dengan alasan orang tua yang kerja dan jarang di rumah. Para orang tua baru ada di rumah sekitar jam 8 malam. Fenomena seperti ini memang sering terjadi di kota-kota besar dimana kedua orang tua bekerja. Sehingga hal yang sudah bisa jika anak-anak menonton sendiri tanpa didampingi oleh orang tua mereka. Padahal Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Don Bosco mengatakan bahwa sudah banyak sekali keluhan dari berbagai pihak yang masuk ke KPI tentang protes mereka terhadap tayangan-tayangan di televisi yang membahayakan bagi anak. Karena itu Don Bosco sangat berharap para orang tua tidak membiarkan anak mereka menonton televisi terlalu lama. Paling baik itu anak-anak menonton 1 – 2 jam saja dalam sehari. Dan lebih baik anak disuruh melakukan kegiatan lain seperti bermain dari pada hanya menonton televisi. Tentu hal ini harus dibicarakan bersama antara orang tua dan anak. Termasuk membicarakan tayangan apa yang bisa ditonton dan apa yang tidak bisa.

Pada media Kidia edisi Juni-Juli yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), disebutkan daftar acara yang masuk dalam kategori ‘Aman’, ‘Hati-hati’ dan ‘Bahaya’ untuk anak. Tayangan televisi yang ‘Aman’ bagi anak, bukan hanya tayangan yang menghibur, melainkan juga memberikan manfaat lebih misalnya, pendidikan, memberikan motivasi, mengembangkan sikap percaya diri anak dan penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan. Sekalipun aman, orangtua diimbau untuk mendampingi anak-anak menonton televisi. Contoh tayangan anak yang ‘Aman’ : Varia Anak (TVRI), Bocah Petualang, Laptop Si Unyil, Jalan Sesama, Cita-citaku, Si Bolang ke Kota, Buku Harian si Unyil (TRANS7), Surat Sahabat, Cerita Anak, Main Yuk! (TRANS TV), Dora The Explorer, Go! Diego Go!, Chalkzone, Backyardians (TV G) dan Masa Kalah Sama Anak-anak (TV One).

Sementara, tayangan yang masuk dalam kategori ‘Hati-hati’, adalah tayangan anak yang dinilai relatif seimbang antara muatan positif dan negatifnya. Seringkali, tayangan yang masuk kategori ini memberikan nilai hiburan serta pendidikan dan nilai positif, namun juga dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistis, seks dan bahasa kasar yang tidak mencolok. Contoh : Idola Cilik Seleb, Rapor Idola Cilik Seleb, Doraemon, Pentas Idola Cilik, Rapor Pentas Idola Cilik (RCTI), Casper, Harveytoon (TPI), Transformers (AN TV), Pokemon Series, Bakugan Battle Brawlers, Konser Eliminasi 6 AFI Junior (IVM), New Scooby Doo Movie (TRANS7), SpongeBob Squarepants, Avatar : The Legend of Aang, Carita De Angel (TV G).

Tayangan yang masuk dalam kategori ‘Bahaya’ merupakan tayangan yang mengandung lebih banyak muatan negatif, seperti kekerasan, mistis, seks dan bahasa kasar. Kekerasan dan mistis dalam tayangan yang masuk dalam kategori ini dinilai cukup intens. Sehingga, bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini, disarankan untuk tidak disaksikan anak. Contoh : Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI), Si Entong, Tom & Jerry, Si Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV), Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry (TRANS7), One Piece, Naruto (TV G).

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang ada sekarang yaitu, pola menonton anak yang tidak sehat. Program tayangan televisi banyak yang tidak aman. Dan lemahnya peraturan bidang penyiaran dan penegakannya. Buktinya meski banyak tayangan yang masuk kategori berbayaha bagi anak, tapi toh masih saja disiarkan sampai saat ini. Karena itu untuk menjawab permasalahan ini, peran orang tua untuk pendampingan anak sangat diperlukan, disamping itu perlu dilakukan upaya bersama berbagai komponen masyarakat untuk mendesak dan mempengaruhi industri penyiaran agar lebih memperhatikan isi tayangan dan pola penyiaran yang memperhatikan perlindungan terhadap anak. Sehingga cita-cita menjadikan bangsa ini untuk maju dapat tercapai karena memiliki generasi penerus yaitu anak-anak yang ‘sehat’ dan cerdas.

Rabu, Agustus 13, 2008

Saatnya Penyiaran Indonesia Migrasi dari Analog ke Digital

Rabu, 13 Agustus 2008, adalah hari penting bagi sejarah dunia penyiaran di Indonesia. Karena hari ini merupakan hari pertama uji coba migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital. Departemen Komunikasi dan Informarika (Depkominfo RI) sendiri telah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) No.27/P/M.Kominfo/8/2008 tentang ujicoba siaran digital tersebut yang dilakukan baik untuk siaran TV terestrial maupun siaran TV bergerak (mobile). Depkominfo menunjuk TVRI dan RRI sebagai penyedia isi atau content provider. Dan yang bertindak sebagai penyedia jaringan atau network provider adalah PT Telkom. Soft launching Uji coba penyiaran digital yang diresmikan oleh wakil presiden Yusuf Kalla ini rencananya akan berlangsung selama 6 sampai 9 bulan wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Apa dan bagaimana sebenarnya migrasi penyiaran dari analog ke digital itu ? Mengapa Indonesia harus bermigrasi ke digital?

Pertama, karena perkembangan digitalisasi adalah buah dari perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini. Sehingga mau tidak mau sebagai negara yang berkembang Indonesia harus juga masuk ke era digitalisasi, karena sudah merupakan tuntutan zaman dan globalisasi. Kedua, migrasinya sistem penyiaran analog ke digital perlu dilakukan salah satunya untuk memperbanyak frekuensi penyiaran. Saat ini frekuensi atau public domain pada system analog sangat terbatas padahal di lain pihak tuntutan untuk membuat lembaga penyiaran juga sangat tinggi. Sehingga digitalisasi sangat menjanjikan adanya pemanfaatan public domain atau frekuensi yang lebih banyak. Kalau pada sistem analog dalam 1 kanal hanya 1 frekuensi, namun pada digital bisa menjadi 6-8 frekuensi. Disamping itu juga sangat mengefisienkan infrastruktur dengan adanya sharing tower antar provider sehingga lebih efisien dan dapat menekan biaya. Dengan demikian masyarakat juga akan mendapatkan informasi yang makin banyak dan bervariatif dengan banyaknya pilihan yang diberikan oleh banyak jasa penyiaran. Hal ini juga didukung oleh UU Penyiaran yang menginginkan adanya demokratisasi penyiaran yang tidak hanya menyangkut meyangkut kepemilikan lembaga penyiaran yang lebih banyak tetapi juga menyajikan konten yang berbeda. Sehingga dapat terlihat proses demokratisasi dari segi kepemilikan maupun konten. Dengan demikian memberikan kesempatan bagi masyarakat juga untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan/kebijakan publik. Dan alasan ketiga, dengan digital, gambar dan audio penyiaran akan semakin bagus.

Masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengeluarkan biaya yang tinggi saat bermigrasi ke digital dengan harus mengganti pesawat televisi dan radio yang ready digital (sekarang umumnya masih analog). Karena peristiwa migrasi ini bukan peristiwa sehari tetapi akan berlangsung lama. Amerika dan Eropa saja membutuhkan waktu 10 tahun untuk benar-benar migrasi ke digital. Sedangkan untuk Indonesia tahun ini adalah awal memberikan komitmen untuk masuk pada era baru digitalisasi. Dalam proses inilah secara bertahap akan dijelaskan model sistem yang akan digunakan. Sehingga diperkirakan 10 tahun kemudian yaitu di tahun 2018 di Indonesia sepenuhnya sudah menggunakan digital. Sama halnya waktu masyarakat masih menggunakan televisi hitam putih, yang lambat laun secara bertahap selama bertahun-tahun akhirnya migrasi sepenuhnya ke pesawat televisi berwarna. Tapi selama tahapan persiapan ready to digital tersebut, pemerintah menjamin digitalisasi bisa ekonomis dengan menyiapkan set-top box (semacam decoder yang mengubah sinyal siaran TV analog ke sinyal digital). Diupayakan harganya lebih murah dan terjangkau oleh masyarakat. Untuk uji coba ini saja, pemerintah melalui Depkominfo menyediakan 800 sampai 900 set-top box untuk ujicoba siaran televisi digital. Dirjen Sarana Komunikasi dan Diseminasi Informasi (SKDI) Depkominfo, Freddy Tulung, mengatakan, 900 set-top box tersebut akan disiapkan oleh satu perusahaan dalam negeri pemenang tender dengan dana sebesar Rp 1,2 Miliar dari pemerintah. Depkominfo sendiri telah mengundang lima perusahaan dalam negeri untuk ikut tender pengadaan set-top box yaitu PT Inti (Industri Telekomunikasi Indonesia), PT LEN, PT. Panasonic Gobel, PT Polytron Indonesia dan PT. Panggung Electric Citrabuana Surabaya.

Jadi ada baiknya kita sebagai masyarakat umum mengetahui rencana pemerintah dalam proses migrasi ini yaitu pada tahun 2008-2012, merupakan uji coba bertahap. Tahun 2013 -2017 penghentian siaran TV analog dan mempercepat izin-izin operator infrastruktur jaringan digital. Dan tahun 2018 merupakan tahun dimana sistem penyiaran sekaligus masyarakat Indonesia sudah sepenuhnya bermigrasi dan menggunakan digital. Waktu 10 tahun kedepan ini adalah waktu untuk mempersiapkan hal itu.



Sabtu, Agustus 02, 2008

Peran Media Massa Dalam PEMILU 2009

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menetapkan 34 Partai Politik (Parpol) yang lolos verifikasi dan ikut Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 mendatang. Namun berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, kali ini masa kampanye telah ditetapkan selama 9 bulan. Dan sejak 12 Juli 2008 lalu, kampanye parpol telah dimulai. Namun belum lagi beberapa saat kampanye berlangsung, disana sini telah terjadi pelanggaran.

Media massa khususnya televisi meberitakan beberapa parpol sudah melakukan pelanggaran dengan memasang bendera parpol mereka di badan-badan jalan tol, padahal hal tersebut melanggar aturan yang telah diatur undang-undang pemilu dimana disebutkan bendera-bendera parpol tidak boleh dipasang di jalan tol, kantor pemerintah, sekolah dan lain-lain. Hal ini menimbulkan pertanyaaan apakah ini terjadi karena ketidaktahuan parpol tentang hal tersebut atau kurangnya sosialisasi dari KPU tentang hal-hal yang bisa dan tidak bisa dilakukan parpol dalam masa kampanye, proses pemilu hingga pemilu 2009 mendatang. Pelanggaran yang dilakukan sejumlah parpol ini baru saja terjadi beberapa saat ketika masa kampanye ditetapkan. Bagaimana dengan masa kampanye 9 bulan mendatang yang akan berjalan? Bagaimana saat pemilu dan pasca pemilu? Apakah pelanggaran-pelanggaran masih saja terjadi? Bagaimana peranan media massa dalam proses ini?

Peran media dalam kampanye pemilu bisa dibagi manjadi 3 bagian, pertama sebagai media komunikasi langsung dari parpol dan calon dewan kepada masyarakat pemilih. Dalam hal ini media dipakai sebagai alat promosi untuk memperkenalkan parpol atau calon presiden atau calon legislatif. Contoh saat ini yang marak disiarkan di televisi melalui iklan politik, seperti Prabowo Subianto, Rizal Malarangeng, Sutrisno Bahir dsb. Kedua, program berita (informasi khusus). Dalam program ini diberitakan tentang parpol dan segala hal yang menyangkut pemilu. Dan ketiga adalah informasi pendidikan untuk pemilih. Informasi ini menyangkut partisipasi pemilih, proses pemilihan, cara memilih dan lain-lain. Nah dalam melaksanakan perannya ini media dapat menjadikan pemilu yang bebas dan adil, tergantung pada kemampuan media yang bisa bekerja secara profesional, berintegritas, tidak berat sebelah/objektif (melaporkan fakta-fakta yang tidak merugikan satu pesaing atau lainnya), tepat (melaporkan berita yang sama dari yang dipersepsikan oleh peserta politik yang bersangkutan), dan seimbang (keseimbangan harus dicapai dalam satu laporan). Kadang peliputan dilakukan dengan tidak seimbang. Misalnya yang paling sering terjadi parpol yang besar mendapat porsi peliputan yang lebih besar daripada opisisi. Saat yang sama partai yang berkuasa dapat juga diberitakan dengan gambaran yang menguntungkan, sementara pihak opisisi digambarkan secara negatif. Kegagalan membedakan antara kegiatan pemerintah dan kampanye juga sering terjadi. Karena itu media perlu membedakan antara kegiatan para pejabat pemerintah yang menjalankan fungsi pemerintah yang pantas diberitakan dengan kegiatan kampanye yang dilakukan oleh orang-orang yang sama.

Media massa merupakan sasaran empuk bagi kontestan peserta Pemilu, baik itu calon anggota Dewan Perwakilan Daerah, partai politik, atau ratusan calon anggota legislatif yang berlomba-lomba merebut kursi. Ditengah godaan kepentingan kontestan pemilu, media massa ditantang untuk menjaga integritas profesionalismenya. Karena meski porsi berita mengenai pemilu yang disajikan media massa sangat banyak tapi belum berarti media massa telah ikut mensukseskan pemilu. Karena itu tema berita yang diangkat oleh media massa harus obyektif. Godaan bagi media massa memang sangat besar dalam pemilu. Besarnya ruang yang tersedia di media massa merupakan lahan subur bagi mereka untuk bekerjasama dengan tim sukses pemilu. Karena bagaimanapun juga tidak dapat dipungkiri bahwa media ’hidup’ dari iklan yang bisa diperoleh dari sebuah partai peserta pemilu. Sehingga kadang sangat jelas sekali terlihat bahwa sebuah media dalam pemberitaannya didominasi partai-partai tertentu.

Namun terlepas dari hal itu, kembali pada fungsi pers yaitu sebagai media informasi, kontrol sosial dan hiburan, juga media pendidikan. Dan media dapat menjadi sarana yang efektif dalam memajukan pendidikan pemilih dengan menyuguhkan kepada pemilih tentang bagaimana kapan dan dimana harus mencoblos, menyediakan informasi yang dibutuhkan pemilih untuk memahami ciri-ciri dari isu-isu, program dan rencana partai-partai maupun watak daripada calon legislatif. Sehingga masyarakat dapat mengetahui siapa saja yang bisa dipilih oleh rakyat, apa saja janji mereka sehingga masyarakat bisa memilih tokoh-tokoh yang dianggap paling cocok memimpin dan menjadi wakil rakyat. Disamping itu, media juga dapat berperan secara kritis dalam pendidikan kepentingan umum dan dalam meningkatkan peran serta pemilih secara kelompok, seperti di negara-negara tertentu wanita yang memiliki minat memilih yang lebih rendah. Karena itu media dapat mem-push golongan-golongan tertentu tersebut untuk ikut terlibat dalam pemilu. Media juga bersama masyarakat dan tim pemantau pemilu dapat memantau pemilu agar bisa berjalan dengn jujur dalam peliputan kampanye melalui berita dan informasi.

Dan yang tidak kalah pentingnya media harus mengikuti kode etik pers supaya bisa melaksanakan tugas secara maksimal. Media juga perlu menyiapkan calon presiden, parpol dan calon legislatif maupun pendukung bahwa kalah dalam sebuah pemilu adalah biasa. Karena di negeri ini jarang sekali pihak yang kalah mau menerima kekalahan dengan lapang dada. Banyak contoh dalam Pilkada disejumlah daerah seperti di Sulawesi Selatan dan Maluku Utara. Pihak-pihak yang kalah tidak mau menerima dan akibatnya menjadikan persoalan yang berkepanjangan yang juga melibatkan para pendukung masing-masing calon yang berujung pada bentrok dan tindakan anarkis.
Pemilu dapat membuahkan hasil yang diterima rakyat, jika benar-benar melaksanakan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia serta jujur dan adil. Untuk memenuhi prinsip itu, penyelenggaraan Pemilu tentu perlu dipantau oleh elemen masyarakat. Sejumlah organisasi pemantau Pemilu, seperti KIPP, KIPPDA, Forum Rektor, UNFREL dan sebagainya, menjadi pemantau pelaksanaan Pemilu. Namun, mereka tidak akan mampu memantau seluruh proses Pemilu di berbagai daerah dalam waktu yang sangat singkat. Karena itu media massa menjadi unsur pendukung, serta merupakan saksi rakyat. Media massa memantau pelaksanaan Pemilu dan menyiarkan/memberitakan hasil pantauannya, sehingga diketahui rakyat. Disinilah peran media massa dengan integritas tinggi sangat dibutuhkan.

Selasa, Juli 22, 2008

BUNAKEN : Its Beautiful !!

Akhirnya setelah 2 tahun menjadi penduduk kota Manado, Jumat 18 Juli 2008, saya untuk pertama kalinya berkesempatan pergi ke Bunaken. Ya agak lambat juga sih...! Tapi daripada tidak sama sekali? Masalahnya kata orang tidak sah kalo ke Manado tapi tidak injak Bunaken. Apalagi orang yang menetap di kota Manado? Wah keterlaluan kalo tidak pernah ke sana. So....Bunaken merupakan sebuah pulau seluas 8,08 km² di Teluk Manado, yang terletak di utara pulau Sulawesi. Untuk mencapai lokasi Taman Nasional Bunaken kita menggunakan perahu motor melalui Pelabuhan Manado, Marina Nusantara Diving Centre (NDC) sekitar 30 menit. Nah jika banyak orang, bisa sewa perahu berkapasitas 20 orang seharga Rp.700.000,-dan dipakai sesuka hati (maksudnya pakai seharian juga gak masalah).

Sekitar 30 menit perjalanan sampailah kita di sekitar pantai pulau Bunaken dan pulau Manado Tua, mesin perahu pun diperlambat. Petugas perahu segera menurunkan 2 buah peti kaca ke bawah laut, untuk meneropong kondisi taman laut yang terkenal ini. Dan setelah diintip....astaga, cantik sekali taman laut ini. Gak nyesal deh ke sini. Di s
ekitar pulau Bunaken terdapat taman laut Bunaken yang merupakan bagian dari Taman Nasional Kelautan Manado Tua. Secara keseluruhan taman laut Bunaken meliputi area seluas 75.265 hektar dengan lima pulau yang berada di dalamnya, yakni Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage berikut beberapa anak pulaunya, dan Pulau Naen. Meskipun meliputi area 75.265 hektar, lokasi penyelaman (diving) hanya terbatas di masing-masing pantai yang mengelilingi kelima pulau itu.

Setelah puas mengintip taman laut, kita pun segera menuju ke pulau Bunaken yang tidak jauh dari situ. Di pulau ini bayak sekali ibu-ibu berjualan souvenir khas manado, mulai dari baju kaos, topi, gelang, dll. Meski hari masih terbilang pagi, kita sempat juga minum kelapa muda yang dicampur dengan gula merah, and saran pisang goreng pake rica....nyambung gak itu pasangan makanan dan minumnya? Dinyambung-nyambungkan deh...asal tidak sakit perut saja. Tidak terlalu lama kita di pulau ini, asal puas melihat-lihat pantai dan laut yang indah, makan sampe kenyang, and pulang deh....

Kumpulan Artikel

'........melihat, mengamati,merasakan, dan menuangkannya dalam tulisan.....'