Jumat, April 04, 2008

The City Of Blessing Go To MKPD 2010


Nyiur hijau, di tepi pantai, siar siur daunnya melambai…”, sepenggal bait lagu lama ini mungkin cocok dengan suasana daratan Sulawesi Utara. Bagi mereka yang sudah pernah berkunjung ke kota Manado, dengan menggunakan pesawat udara, pemandangan hamparan ribuan pohon kelapa yang tumbuh di sekitar kota ini pasti akan terlihat, beberapa saat ketika pesawat akan landing di bandara Sam Ratulangi. Sungguh, pertama kali melihat pemandangan itu, saya pun takjub dibuatnya. Tidak heran, kalau Sulawesi Utara dikenal dengan sebutan ‘Bumi Nyiur Belambai’. Itu kesan pertama saat memasuki gerbang ibu kota Sulawesi Utara yang biasa disebut juga dengan 'The City Of Blessing'. Kesan selanjutnya?

Seorang teman saya yang bermukim di kota Manado pernah berkelakar, kalau ke kota Manado belum berkesan jika tidak merasakan/melihat 5 (lima) B. Karena penasaran, saya kemudian bertanya apa itu 5 B? Dia pun menjawab 1. Boelevard (daerah pinggir kota Manado yang terkenal dengan pantainya yang indah. 2. Bunaken (taman laut nasional yang indah, letaknya sekitar 1 jam perjalanan laut dengan menggunakan perahu sewaan). 3. Bubur Manado, sejenis makanan khas Manado yang terdiri dari bubur yang dicampur sayur-sayuran segar, disantap dengan dabu-dabu bakasang dan ikan cakalang atau ikan nike). 4. Bibir Manado (orang Manado dikenal suka bacirita=bercerita dengan materi cerita yang tidak habis-habisnya) dan yang ke 5 adalah Bangkrut. ”Hah? Bangkrut? Maksudnya?”Tanyaku. Temanku ini menjawab dengan logat Manado sambil setengah tertawa : “Bangkrut itu hanya istilah koa, yang artinya torang nya’ rasa itu doi so banya kaluar for makang, balanja dan baron. Karena di sini kote, depe makanan sadap-sadap ley, torang boleh tergodai no for berwisata kuliner, baron di tempat-tempat wisata gaga dan tantu balanja sovenir, kurang kage doi so abis. (Bangrut hanya istilah, yang artinya kita tidak akan merasakan mengeluarkan banyak uang untuk makan, belanja dan jalan-jalan. Karena disini makanannya enak-enak, kita pun bisa tergoda untuk berwisata kuliner, mengunjungi tempat-tempat wisata indah dan tentu berbelanja souvenir, tahu-tahu uang sudah habis).” Awalnya saya tidak percaya dengan point ke 5 ini, tapi lama-lama tinggal di Manado, baru kurasakan sendiri, “Benar juga kata temanku ini”.

Menjadikan Manado sebagai kota tujuan pariwisata memang sudah menjadi obsesi pemerintah daerah Sulawesi Utara, khususnya pemerintah kota Manado. Karena baru beberapa bulan menjabat sebagai Walikota Manado (tahun 2005 lalu), Jimmy Rimba Rogi dan Wakil Walikota A. Buchari langsung mencanangkan ‘Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) 2010’. Program ini tentu tetapkan pemerintah daerah bukan tanpa alasan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan potensi pariwisata di kota Manado sehingga dapat diperhitungkan sebagai tujuan wisata dunia nantinya. Karena itu daerah ini sudah memiliki modal penunjang agar program tersebut bisa tercapai. Diantaranya, wilayah ini memiliki keindahan wisata alam yang sangat luar biasa seperti di Bunaken, disana orang bisa melakukan senam scuba dan snorkeling untuk menikmati taman laut yang terkenal dengan terumbu karangnya. Tempat lain yang menarik dikunjungi adalah Boelevard (tepi pantai), pulau Manado Tua, Danau Tondano, panorama Gunung Lokon, Gunung Klabat, Gunung Mahawu, Bukit Kasih di Kawangkoan, Vulcano Area di Tomohon, desa Agriwisata Rurukan, Batu Pina Betengan dan Waruga di Sawangan dan lain-lain. Sementara di pusat kota Manado memiliki objek dan daya tarik seperti di lapangan Tikala dengan pohon natalnya yang tinggi dan besar, Tugu Kota Tinutuan, Gedung Tua bersejarah (Minahasaraad), Gereja tua Sentrum dan Katedral, Klenteng Ban Hin Kiong (dibangun abad ke 19), Kampung-Kampung Tua dan lain-lain.

Modal kedua, daerah ini juga kaya dengan wisata seni dan budaya seperti berbagai tari (Maengket, Pisok, dan lain-lain), Musik Bambu, Kolintang, Budaya Masamper, Ampawayer, Katrili, Kabasaran, Cakalele, Mahzani dan lain sebagainya. Cendera Mata mulai dari bentuk kain tenunan Bentenan sampai kue-kue tradisional seperti Bagea, Kukis Kelapa, Cucur, Panada, Koyabu, Brudel, Lalampa, Nasi Jaha’, Nasi Kuning, Klapetar, Gohu, Cakalang Fufu, Ikan Roa, dan masih banyak lagi, juga menjadi ciri khas yang biasa dijadikan oleh-oleh jika berkunjung ke kota ini.
Disamping itu kota Tinutuan (nama lain kota Manado) ini juga sudah memiliki bandara udara berskala internasional yang terhubung langsung dengan kota-kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Makassar dan Balikpapan. Selain itu juga mempunyai penerbangan langsung dari dan ke luar negeri seperti Singapura dan Davao, Philipina. Bandara ini juga termasuk kategori terbaik ketiga di Indonesia setelah Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Hang Nadim, Batam. Begitupun alat transportasi laut melalui dermaga di Manado untuk kapal-kapal kecil, sedangkan untuk kapal-kapal PELNI, berlabuh di pelabuhan Bitung sekitar 40 km sebelah barat Manado. Untuk transportasi darat antar kota dan dalam kota juga lancar. Sehingga sangat memudahkan bagi warga Manado untuk bepergian. Dan modal terpenting yang dimiliki kota ini, adalah aman dan tenang. Tingkat kriminalitas di kota ini relatif rendah. Anak jalanan dan pengemis hampir tidak ada. Jika modal ini sudah dimiliki tentu siapa saja akan betah dan selalu rindu untuk kembali ke kota ini. Apalagi hal ini didukung dengan ciri masyarakat kota Manado (Minahasa) yang sangat terbuka dan mudah bergaul.
Namun modal tadi tidak berarti apa-apa jika tidak didukung oleh berbagai upaya pemerintah daerah dan masyarakat untuk mencapai MKPD 2010. Apa saja yang sudah dan sedang dilakukan? Pemerintah provinsi dibawah pimpinan Gubernur SH. Sarundajang mempertegas kembali bahwa sektor pariwisata merupakan unggulan Sulawesi Utara selain sektor perikanan, pertanian, pengembangan SDM dan perdagangan internasional. Karena itu distribusi dana pengembangan di sektor pariwisata Sulawesi Utara mulai tahun 2006 mencapai Rp. 10 miliar lebih. Dan pemerintah provinsi juga menyiapkan rencana induk pariwisata yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam kurun 4 tahun terakhir ini pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan hiburan di kota Manado juga berkembang pesat seperti Mega Mal Manado, Manado Town Square, Boulevard Mall dan IT Centre Manado. Keempat pusat perbelanjaan ini berlokasi di jalan Piere Tendean atau yang dikenal dengan daerah Boulevard (ditepi pantai kota Manado). Sepertinya pemda setempat sengaja memusatkannya di Boulevard, sehingga para pengunjung pusat perbelanjaan langsung bisa menikmati keindahan pantai. Para investor juga memanfaatkan moment MKDP 2010 ini dengan membangun sejumlah hotel. Dan dua tahun terakhir ini pembangunan hotel dan penginapan terbilang meningkat. Tidak sebatas hotel saja, program pembangunan beberapa infrastruktur seperti landmark, jembatan, pelebaran jalan sudah dan sedang dalam proses.

Pembangunan infrastruktur ini juga diikuti dengan langkah kongkrit pemerintah daerah dengan program Jumpa Berlian (Jumat Pagi Bersih Lingkungan Anda). Program ini wajib diikuti oleh masyarakat kota Manado untuk membersihkan lingkugan sekitar tempat tinggal mereka setiap hari Jumat. Alhasil kota Manado meraih piala Adipura tahun 2007 lalu dengan kategori Kota Sedang Terbersih setelah sekitar 15 tahun kota ini termasuk terkotor dan semrawut. Selama 2 tahun terakhir ini juga pemerintah kota melakukan gebrakan pembersihan kota dari Pedagang Kaki Lima (PKL) liar yang berjualan di sejumlah tempat strategis. Meski mendapat perlawanan dari para PKL, namun akhirnya mereka dapat direlokasi. Semua ini sebagai point penting untuk masuk ke MKPD 2010.

Pembenahan aspek budaya juga dilakukan antara lain dengan menggairahkan kembali seni budaya kota Manado. Menurut walikota Manado, Jimmy Rimba Rogi ;”Pariwisata tanpa ditopang seni dan budaya, maka akan hambar rasanya.” Karena itu berbagai pelaksanaan festival dan pelatihan seni budaya sangat didukung oleh pemerintah kota. Mungkin masih banyak lagi hal-hal yang sedang diupayakan oleh pemerintah daerah dalam rangka perwujudan MKPD 2010.

Untuk mencapai ikon kota pariwisata dunia, bukan suatu hal yang gampang. Meski infrastruktur telah siap namun masyarakatnya sendiri belum siap, apalah artinya semuanya. Karena itu dukungan masyarakat kota Manado juga sama pentingnya dengan dukungan pemerintah daerah. Pola pikir masyarakat perlu mulai bergeser yaitu sebagai masyarakat yang maju dan berkembang seperti di kota-kta wisata lainnya. Tidak cukup hanya merasa bangga saja memiliki identitas sebagai masyarakat kota Manado, namun juga harus memiliki integritas yaitu daya juang, tanggung jawab, disiplin dan karakter yang positif dalam membangun kota Manado, sehingga tercipta citra baik yang pada akhirnya dapat mewujudkan potensi dan impian. Dengan demikian bukan sesuatu yang mustahil kota Manado bisa menjadi kota pariwisata dunia tahun 2010 mendatang. Selamat Datang MKPD 2010 ! Ingat 5 B, Boulevard, Bunaken, Bubur Manado, Bibir Manado, tapi jangan sampai Bangkrut !

Selasa, Maret 04, 2008

'Hidupkan' KB Lewat Media Komunikasi

Wafatnya mantan presiden Soeharto, 27 Januari 2008 lalu membuat banyak stasiun televisi menyiarkan catatan sejarah dari beliau. Salah satu yang sempat saya tonton, adalah saat beliau berhasil dengan program Keluarga Berencana (KB) di tahun 70-an. Program yang terkenal dengan slogan ’Cukup Dua Anak Saja’ ini berhasil menekan angka kelahiran penduduk sehingga dapat mengendalikan laju pertumbuhannya. Mengapa waktu itu program KB ini sangat sukses?

Saat itu program KB cukup berhasil,salah satunya karena sosialisasi program ini sangat getol disiarkan oleh media massa dan media komunikasi lainnyaSaat ini sosialisasi KB tidak lagi segencar dulu. Kalau dulu ditahun 70-an, iklan layanan masyarakat tentang KB sangat sering disiarkan baik itu melalui televisi, radio, surat kabar, majalah, baliho-baliho di jalan, sampai pada lempengan uang Rp 5,- tertera gambar pasangan ayah dan ibu serta 2 orang anak mereka. Saya masih ingat waktu SD diakhir tahun 70-an, Lagu ’kebangsaan’ KB selalu terdengar melalui radio dan televisi. Bahkan sangking seringnya mendengar lagu itu, sampai saat ini saya masih ingat irama lagunya meski syair-syairnya sudah tidak hafal. Jaman sekarang, apa anak SD tahu lagu itu? Saya yakin sama sekali tidak, yang mereka tahu hanya lagunya kelompok band Ungu, Peterpan, Samsons dll. Karena hanya itu yang mereka sering dengar. Kini sosialisasi semacam itu sudah jarang ditemui. Kalaupun ada iklan alat kontrasepsi seperti kondom, hal itu lebih ditujukan untuk pencegahan penyakit menular yang berbahaya seperti HIV/AIDS. Mungkin di era tahun 70-an media yang ada TVRI dan RRI yang adalah milik pemerintah sehingga iklan-iklan pemerintah seperti KB dapat dengan mudah disiarkan. Sedangkan jaman sekarang, media swasta makin banyak, butuh dana yang tidak sedikit untuk mengiklankannya di media-media tersebut.

Padahal kenyataan saat ini, meski pembangunan sedang berjalan, namun ketimpangan ekonomi di berbagai sektor masih saja terjadi. Kemiskinan sangat dekat dengan berjuta orang di negeri ini. Pengangguran setiap tahun makin bertambah, pengemis, anak jalanan dan gelandangan juga makin banyak, namun tidak mampu ditangani dengan tuntas oleh pemerintah. Pendidikan yang dipercaya dapat mengangkat bangsa ini dari kemiskinan juga biayanya semakin hari semakin melambung, yang hanya terjangkau oleh kalangan ekonomi menengah keatas. Akibatnya banyak remaja yang tidak bisa melanjutkan sekolah mereka dan memilih menikah serta mempunyai banyak anak tanpa memikirkan apa yang terjadi dengan anak-anak mereka sebagai generasi penerus 20 tahun mendatang. Sehingga pertumbuhan dan kepadatan penduduk sulit dikendalikan. Apalagi saat ini jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 253 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,3% pertahun. Bisa dibayangkan pertumbuhan penduduk Indonesia terbilang sangat cepat. Dari data BPS menunjukkan penduduk usia belum bekerja (0-18 tahun) lebih banyak dibanding usia produktif (yang sudah bekerja). Hal ini mengakibatkan beban ekonomi semakin berat. Sehingga wajar terjadi ketimpangan ekonomi dan masalah sosial pada penduduk. Inilah yang terjadi di negara kita. Padahal Menteri Kependudukan Nasional dan Komisi Keluarga Berencana China, Zang Weiging mengaku bahwa negaranya pernah belajar dari Indonesia pada tahun 70-an soal program KB yang dinilai sukses dalam menekan angka kelahiran. Namun Sekarang justru sebaliknya, negara kita harus belajar dari China, yang dulu adalah murid. Kenyataan ini membutuhkan dihidupkannya kembali kejayaan program KB yang salah satunya dalam bentuk sosialisasi di berbagai media komunikasi.

Mengapa saya mengatakan melalui media komunikasi ? Karena kalau hanya melalui media massa, maka itu berarti hanya tugas pemerintah semata dalam hal ini BKKBN yang mungkin dalam melaksanakan program-program yang berhubungan dengan KB bekerjasama dengan media massa. Tapi kalau melakukan sosialisasi dengan menggunakan media komunikasi, maka setiap kita rakyat biasa juga bisa mempunyai andil untuk itu. Misalnya saja dengan membuat blog yang berisi tentang tulisan-tulisan seputar KB yang bisa juga disebarkan di milis-milis rekan-rekan kita atau apalah yang bisa menunjang sosialisasi program KB. Namun sekali lagi sosialisasi melalui media massa seperti radio, televisi dan surat kabar sangat penting, karena hanya melalui media tersebut dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok. Sedangkan sesuai kemajuan globalisasi, sosialisasi melalui media baru seperti internet juga sangat diperlukan yang bisa menjangkau masyarakat lapisan menengah ke atas yang notabene sudah menggunakan media ini sebagai sumber informasi dan komunikasi.

Tugas mengkampanyekan keluarga berencana bukan semata tugas pemerintah, namun tugas kita bersama. Tugas dan peran perempuan dan laki-laki. Karena meski pemerintah mencanangkan keuarga kecil bahagia, tapi jika tidak dilaksanakan oleh masyarakatnya, maka hal itu hanya menjadi wacana belaka. Karena itu yang perlu dilakukan bersama adalah ’hidupkan’ kembali program KB ini melalui sosialisasi dan kampanye melalui media komunikasi. Supaya program ini kembali mendarah daging dalam jiwa bangsa ini. Karena keberhasilan program KB adalah merupakan keberhasilan pembangunan ekonomi bangsa. Keberhasilan ekonomi bangsa adalah keberhasilan mensejahterahkan keluarga. Dan Keberhasilan mensejahterahkan keluarga adalah indikator sebuah negara yang makmur. Mari, Hidupkan Kembali KB !

Selasa, Februari 05, 2008

Radio di Wilayah Kepulauan

Suatu hari saya berkesempatan ke kota Tahuna, ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe। Dalam perjalanan menuju kesuatu tempat di kota itu, angkutan kota yang saya tumpangi singgah di sebuah terminal untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke jurusan lain। Di terminal itu saya mendengar sebuah siaran radio yang memang sengaja di ’udara’kan melalui sebuah corong besar yang ditempatkan di tengah-tengah terminal. Saya mencoba menyimak, siaran apa gerangan yang disiarkan secara umum ini kepada masyarakat. Saya mencoba menebak, sepertinya radio siaran Radio Republik Indonesia (RRI)। Ketika saya mencoba bertanya kepada sesama penumpang angkutan, ia membenarkan kalau siaran itu memang RRI. Wah hebat benar kalau ada siaran radio yang disiarkan secara umum apalagi di tempat-tempat umum seperti terminal. Tentu berbagai informasi dan hiburan dengan cepatnya dapat sampai kepada masyarakat. Begitu pikirku.

”Animo masyarakat memang sangat tinggi untuk mendengarkan siaran RRI. Apalagi kita sengaja melibatkan masyarakat umum untuk ikut berpartipasi dalam beberapa program acara RRI. Sehingga masyarakat secara tidak langsung merasa memiliki radio siaran ini.” begitu penjelasan Bapak Drs. Salman, Kepala RRI Tahuna kepada saya saat saya berkesempatan mampir di ruang kerjanya di Tahuna untuk menanyakan hal di atas. ”Kami disini banyak melibatkan pendengar secara aktif,” lanjut Salman, ”seperti para budayawan, orang-orang yang sangat dikenal masyarakat, sanggar-sanggar pemuda dan lain-lain. Dengan menggunakan bahasa setempat tentunya isi pesan yang akan disampaikan pada masyarakat sangat mudah diterima sampai ke pelosok desa sekalipun termasuk sampai ke pulau-pula.”


Hampir serupa dengan Salman, Berty Patras pimpinan radio Sumber Kasih di kota Tahuna juga mengatakan, bahwa siaran radio di wilayah kota Tahuna atau di kabupaten kepulauan Sangihe secara umum masih sangat dominan didengar. ”Karena itu kami sengaja mengambil frekuensi AM agar jangkauan siaran lebih jauh hingga mayarakat yang tinggal di kepulauan juga bisa menikmati.”

”Ya wajarlah kalau radio masih menjadi pilihan pendengar di kabupatn Sangihe, karena di kabupaten ini hanya ada 3 (tiga) radio siaran saja. Dan semuanya hanya berpusat di kota. Karena itu ketiga radio ini baik radio swasta maupun milik pemerintah berupaya agar siarannya bisa menjangkau sampai ke kecamatan-kecamatan yang letaknya di pulau-pulau.” penjelasan ini saya dapatkan dari Pimpinan radio swasta lainnya yaitu Radio Star FM Tahuna, Benny Papendang.

Setali tiga uang dengan kota Tahuna, kota Sorong yang sempat kukunjungi beberapa waktu lalu juga memiliki gambaran wilayah yang sama. Kota ini juga memiliki beberapa kecamatan yang berada di kepulauan. Kedua wilayah yang Ini merupakan gambaran geografis yang terdiri dari pulau-pulau. Dan kota ini hanya terdapat dia radio siaran saja. Dulu kabarnya radio siaran di kota ini cukup banyak, namun karena masalah perizinan yang tidak cukup memadai, beberapa radio harus ’gugur’ karena ditindak oleh yang ber’wajib’. Namun apakah animo masyarakat terhadap siaran radio juga sama antara Sangihe dan Sorong?

”Masyarakat Sorong memiliki animo yang sangat tinggi terhadap radio siaran. Apalagi siaran RRI yang jangkauannya sampai ke pulau-pulau seperti kabupaten Sorong, Raja Ampat dan lain-lain. Sehingga radio masih menjadi alternatif hiburan dan sumber informasi.” begitu jawaban Rusdiman Saragih, SE, kepala RRI Sorong, saat saya bertanya tentang animo masyarakat terhadap radio. Ternyata jawaban yang sama juga diberikan oleh Niken Florence, Marketing Manager Radio El Marko Sorong. ”Ya, radio itu kan media yang cepat diterima siarannya, sehingga dengan cepat juga msyarakat dapat memperoleh berbagai informasi dan hiburan. Tidak heran kalau media ini menjadi aternatif pilihan masyarakat.”

Dari perbincangan dengan segelintir ’orang-orang radio’ yang saya temui di dua kota berbeda namun memiliki letak geografis yang hampir sama ini (terdiri dari pulau-pulau) ternyata jawaban mereka hampir sama semuanya, yaitu masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan memiliki animo yang cukup tinggi untuk mendengarkan siaran radio. Saya mencoba menganalisa, mengapa radio siaran mampu mengalahkan media massa lainnya seperti televisi, surat kabar, majalah atau bahkan media teknologi informasi dan komunikasi yang sekarang sudah sangat banyak di pakai orang yaitu internet?

Yang pertama, letak wilayah yang terdiri dari pulau-pulau yang membuat media radio merupakan media yang paling efektif untuk menjangkau masyarakat yang tinggal dan menetap di wilayah kepulauan. RRI dan juga beberapa radio swasta yang memiliki jalur frekuensi AM sangat efektif menjangkau masyarakat yang berada di daerah terpencil sekalipun termasuk di pulau-pulau Kalau di Kabupaten Sangihe sampai ke pulau Marore, Miangas bahkan sampai ke kabupaten kepulauan Talaud. Dan kalau di kota Sorong sampai ke kepulauan Raja Ampat dan pulau-pulau disekitarnya. Karena memang frekuensi AM mempunyai daya jangkauan siaran yang lebih jauh dibanding FM. Sifat radio yang cepat, mudah, dan tidak mahal ini juga mendukung masyarakat kepulauan memilih media ini sebagai sumber informasi dan hiburan. Coba bayangkan, kalau di kota Tahuna, keberadaan media surat kabar harus menempuh perjalanan lewat lautan selama satu malam dari kota Manado ke Tahuna. Sehingga surat kabar hari ini akan dibaca kesokan harinya. Ini berarti masyarakat sudah ketinggalan informasi selama 24 jam lebih, alias berita sudah ’basi’ baru sampai ke tangan masyarakat. Begitu juga dengan wilayah Sorong, untuk sampai ke pulau-pulau seperti di Raja Ampat, harus menggunakan speedboat dengan menghabiskan waktu berjam-jam dengan biaya yang sangat mahal.

Media televisi boleh dikatakan agak lebih beruntung di banding surat kabar dan majalah, meski siaran televisi sudah bisa menjangkau kota-kota di kabupaten, namun beberapa siaran dari stasiun televisi swasta baru bisa diperoleh dengan menggunakan antena parabola yang tentu tidak semuanya dimiliki oleh masyarakat, apalagi yang tinggal di pulau-pulau terpencil. Internet ? Boro-boro .....! Di ibukota kabupaten saja seperti Tahuna, hanya memiliki dua warnet itu pun dikelolah oleh pemerintah setempat dan sebuah sekolah, sedangkan yang dikelolah oleh pihak swasta sama sekali tidak ada. Itupun yang memanfaatkannya hanya orang-orang pendatang dari luar kota Tahuna, sementara penduduk setempat sangat jarang memanfaatkannya. Itu baru di ibukotanya bagaimana kalau di pulau-pulau?

Kedua, karena di wilayah kepulauan jumlah radio siaran masih sangat minim, sehingga masyarakat benar-benar memanfaatkan radio siaran yang ada sebagai media hiburan dan informasi.
Ketiga, radio-radio siaran di wilayah kepulauan banyak menyiarkan program-program acara yang sangat menyentuh masyarakat pendengarnya yang boleh dikata masih sederhana dan tradisional seperti acara-acara dengan menggunakan bahasa daerah setempat dan lagu-lagu daerah. Sehingga informasi yang penting untuk disampaikan seperti kebijakan pemerintah setempat sangat mudah dipahami dan diterima masyarakat.
Apapun itu, dari catatan pengalaman berkunjung di dua tempat di atas, sungguh saya mendapatkan satu wawasan baru bahwa radio masih tetap unggul dibanding media lainnya. Karena itu pengembangan-pengembangan terhadap radio siaran harus mendapat prioritas utama dari pemilik radio maupun pemerintah. Baik itu pengembangan soal program acara-nya, sumber daya manusia-nya, perangkat keras-nya maupun pembangunan radio-radio baru dan lain-lain sangat perlu dipikirkan. Karena masyarakat harus tetap mendapatkan kesempatan untuk memilih informasi dan hiburan dari radio. Artinya dengan semakin banyaknya radio yang bertumbuh di kota-kota kecil dan beragamnya program acara membuat pola memikiran masyarakat juga akan semakin bertumbuh, karena dapat memilih dan memperoleh banyak informasi dan hiburan. Kalau boleh memimjam kata-kata mutiara sebuah siaran radio yang sangat terkenal seantero nusantara ’sekali mengudara, tetap di udara’, mungkin sangat cocok untuk menambah semangat bagi dunia siaran radio kita saat ini. Maju terus siaran radio di Indonesia !

Jumat, Januari 25, 2008

Pembajakan = Kriminal

‘Pembajakan atas Hak Cipta adalah Tindakan Kriminal’ demikian judul poster (surat) yang dikeluarkan Mabes Polri Badan Reserse Kriminal akhir tahun 2006। Surat yang berisi himbauan penanggulangan pembajakan hak cipta ini dikirim secara acak ke banyak perusahaan. Tujuannya adalah untuk sosialisasi anti pembajakan sekaligus peringatan sebelum ada tindakan sebagai upaya penegakan hukum. Surat ini dikeluarkan tentu karena adanya berbagai fakta bahwa pembajakan di negara ini sudah semakin parah. Sudah bukan rahasia lagi kalau di Indonesia disebut sebagai ‘surga pembajakan’.

Negara ini termasuk urutan tiga dunia tertinggi dalam soal pembajakan hak cipta. Mulai dari pembajakan CD audio dengan cara mendownload file dari internet sampai menggandakannya dalam bentuk kepingan CD untuk mencari keuntungan pribadi. Tidak sekedar file musik semata, game dan software dan film-film yang belum masuk bioskop pun dapat direkam pada CD dan ditonton pada player DVD. Jika sudah begitu apakah orang masih berminat menonton di bioskop? The Motion Picture Association of America (MPAA) sebuah lembaga pelindung film-film yang memiliki hak cipta menyebutkan kerugian total setiap tahunnya akibat aksi pembajakan diperkirakan mencapai 3 miliar US dollar atau sekitar Rp.27 triliun.

Dengan kemudahan mengakses internet maka semakin mudah dan gampang pula mendownload atau melakukan file sharing. Dengan cara ini materi-materi ilegal dengan seketika saja sudah ada didepan mata. Fakta ini menggambarkan pembajakan digital sangatlah mudah dan universal sehingga bagi kebanyakan orang (mungkin termasuk saya dan anda), aksi ini tidak terasa sebagai sebuah pencurian. Tanpa terasa pembajakan CD,VCD,DVD dan CD software sudah menjadi bagian dari negara ini. Bahkan penggunaan operating system versi Microsoft bajakan sudah mendarah daging bagi berbagai kalangan mulai dari pelajar/mahasiswa, pengusaha sampai pemerintah. Dengan harga yang jauh lebih murah, software bajakan tersebut dapat diperoleh.


Tahun 2003, Menteri Kehakiman dan HAM beserta Kapolri bekerja sama dalam pemberlakuan Undang-Undang Hak Cipta No.19 tahun 2002. Dan bersama departemen terkait ikut mensosialisasikan undang-undang ini. Sosialisasi pemerintah dalam pemberlakuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terus dijalankan. Langkah pemberantasan pembajakan oleh pemerintah ini juga dibuktikan dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara pemerintah Indonesia dengan PT. Microsoft Indonesia. Pemerintah diwakili oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), yang saat itu masih dijabat oleh Sofyan Djalil (kini menteri BUMN), sementara Microsoft diwakili Chris Atkinson selaku Presiden Microsoft South East Asia, 14 Nopember 2006. MoU ini sebagai upaya melegalkan seluruh software Microsoft yang dipakai dijajaran pemerintahan. Ada yang berupa grant tetapi ada pula yang harus dibeli oleh pemerintah Indonesia. Dalam lampiran MoU ini tertera bahwa Microsoft memberikan grant Microsoft Windows dan Microsoft Office sebanyak masing-masing 266.220 lisensi. Dalam MoU ini pula pemerintah Indonesia juga akan membeli Microsoft Windows sebanyak 35.496 lisensi dan Microsoft Office sebanyak 177.480 lisensi, namun tidak disebutkan harga per lisensinya, karena masih akan dinegosiasikan. Dan jika MoU ini berjalan mulus, maka pemerintah harus membayar ke Microsoft mulai 30 Juni 2007. MoU ini sebagai wujud menghargai Intelectual Property Right (IPR) atau HKI. Dan yang diinginkan pemerintah adalah melegalkan semua piranti lunak yang digunakan pemerintah, Legal tersebut bisa melalui Open Source atau freeware lainnya atau melalui Microsoft. Disisi lain pemerintah dalam hal ini kementerian Riset dan Teknologi juga telah membangun local based solution dengan IGOS (Indonesia Goes Open Source) yang terus akan dikembangkan karena merupakan sebuah proses untuk membangun kemampuan jangka panjang. Dengan open source ini siapa saja bisa mendownload, menyalin dan menyebarluaskan dengan bebas.

Setelah lingkungan pemerintah bersih dari pembajakan software maka langkah selanjutnya pemerintah bekerja sama dengan aparat kepolisian akan lebih agresif melakukan penertiban dan penindakan di kantor-kantor swasta dan masyarakat umum. Namun meski pemerintah telah gencar melakukan proses anti pembajakan, namun tidak serta merta pembajakan di Indonesia makin berkurang. Justru permintaan akan software bajakan hingga kini makin tinggi. Lihat saja software-software bajakan masih saja dijual bebas di pasaran secara terang-terangan dan ramai dikunjungi orang. Meski sekali-kali ada sweeping CD bajakan oleh aparat keamanan, namun itu tidak membuat software bajakan ini berkurang atau bahkan hilang dari pasaran. Hal ini juga disebabkan karena harga software original yang relatif mahal ditambah kesadaran masyarakat yang kurang, apalagi ini justru banyak di kalangan intelektual.

Saat ini pembajakan di Indonesia belum dapat diminimalkan apalagi dihapus dengan sekejap mata, masih diperlukan waktu bertahun-tahun lagi agar angka pembajakan menurun. Tanpa adanya kesadaran dari berbagai pihak terutama kalangan intelektual, maka pembajakan akan terus mengakar dalam bangsa ini. Yang bisa bisa menjadi solusi untuk tidak membajak yaitu satu membeli software secara murah dengan melakukan pendekatan kepada vendor misalnya dengan menggunakan lisensi pendidikan. Solusi ke dua, menggunakan program linux dan solusi ke tiga melakukan migrasi ke Open Source. Dengan demikian kita tidak disebut-sebut sebagai kriminal.

Jumat, Oktober 19, 2007

Radio, Sebuah Solusi Alternatif?

“….Saya Andri Wongso, motivator nomor satu Indonesia. Succes is My Life. Salam Sukses Luar Biasa.” Kata-kata pamit dari Andre Wongso setelah memberikan tips-tips menjadi sukses ini, sudah akrab ditelinga pendengar radio Smart FM seperti Wiwin, 34 tahun, seorang wiraswasta. Baginya mendengar radio ini khususnya program membangun wirausaha akan sangat membantu memotivasi dirinya dalam bekerja. Tetapi tidak demikian dengan Eni, 33 tahun, ibu rumah tangga. Dia lebih memilih program radio yang membahas masalah-masalah wanita. Alasannya, dia bisa mendapatkan berbagai informasi seputar masalah kewanitaan. Lain lagi dengan Reza, 34 tahun, bekerja di sebuah perusahaan swasta. “Saya lebih suka mendengar radio Delta FM. Programnya menarik juga lagu-lagunya sebagian besar sesuai dengan selera saya”, begitu pendapatnya. Sementara saya sendiri, jika ditanya radio favorit yang sering kudengar maka saya akan menjawab, radio Trijaya FM. Mengapa?

Radio ini sarat dengan berbagai informasi terkini. Jika tidak sempat membaca surat kabar nasional maupun lokal seperti, Kompas, Sindo, Manado Post atau Komentar, maka saya bisa menyimak bahasan head line-nya setiap pagi dalam program To days News di radio tersebut. Di radio yang sama juga, saya bisa mengikuti berita-berita televisi yang disiarkan RCTI seperti Nuansa Pagi, Seputar Indonesia dll, jika saya tidak sempat menonton televisi. Nah, Anda yang suka mendengarkan radio mungkin juga mempunyai pilihan radio yang sama atau bahkan berbeda dengan saya dan orang-orang diatas, tergantung apakah program acaranya mampu memenuhi kebutuhan Anda atau tidak. Yang jelas saat ini perkembangan siaran radio swasta sangat pesat dan program-program acaranya juga semakin beragam. Kita sebagai khalayak tinggal memilih mana yang kita minati.

Berbicara soal perkembangan radio, tidak terlepas dari perkembangan media massa secara umum (surat kabar, televisi dll) yang begitu pesat dewasa ini. Hal ini disebabkan kebutuhan masyarakat akan informasi yang juga semakin besar. Dengan makin mudahnya informasi diperoleh dari sebuah media, maka semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan media tersebut. Apa lagi saat ini untuk memperoleh informasi relatif lebih mudah dan murah.


Beberapa tahun lalu, saat saya masih bekerja di Radio SPFM Makassar, radio ini bekerja sama dengan Unesco Office Jakarta melakukan riset khalayak pendengar radio di kota Makassar dengan 1000 responden. Hasil riset menyimpulkan 83,5 % responden menyisakan waktunya untuk menonton televisi dan mendengar radio. Atau dari 1000 orang, 835 diantaranya setiap hari mendengar radio dan menonton televisi. Adapun tujuan responden memanfaatkan media elektronik ini cukup beragam mulai dari untuk memperoleh informasi dan hiburan sampai hanya untuk mengisi waktu luang. Sementara hasil riset ini juga menyimpulkan bahwa sebagian besar responden paling meminati informasi/berita melalui radio dan televisi. Dari sini dapat dikatakan media massa khususnya radio dan televisi telah menjadi kebutuhan mutlak dari masyarakat. Keduanya sudah menjadi penyedia kebutuhan informasi berita dan juga hiburan yang dapat dinikmati kapan dan di mana saja. Khusus media Radio, peran dan pengaruhnya saat ini sangat kuat. Apalagi radio mempunyai karakter yang sangat cepat (aktual), murah dan memiliki daya jangkau yang lebih luas serta mampu memncapai sasaran dalam jarak jauh tanpa ada batasan ruang, waktu dan letak geografis suatu tempat. Radio juga mampu mengubah sikap, pendapat, tingkah laku sekaligus spiritual individu atau kelompok dalam waktu yang relatif singkat. Disamping itu dapat dinikmati sambil melakukan pekerjaan lain misalnya mendengar radio sambil menyetir mobil, memasak, membaca, dll.

Perkembangan siaran radio khususnya di kota-kota besar sejak reformasi digulirkan sangat cepat dan pesat. Saat ini siaran radio bukan saja sebagai media hiburan yang hanya menyiarkan lagu-lagu saja, tetapi juga sebagai media penyebaran informasi/berita. Kalau di zaman Orde Baru berkuasa berita-berita radio baik bersifat nasional maupun lokal hanya diproduksi oleh Radio Republik Indonesia (RRI) stasiun pusat dan daerah yang kemudian disebarluaskan atau direlay oleh semua radio siaran swasta, karena itu hukumnya ‘wajib’. Kini hal itu tidak lagi berlaku. Radio siaran swasta sekarang juga telah memproduksi siaran berita sendiri. Mereka kini mempunyai Tim Redaksi sendiri layaknya di media cetak maupun televisi. Juga memiliki reporter/wartawan untuk mengumpulkan berita. Dalam sebuah wawancara di sebuah radio swasta belum lama ini, Kepala Siaran Indonesia Radio BBC menjelaskan sejak tahun 1998, BBC telah melakukan kurang lebih 40 kali pelatihan tentang jurnalistik radio secara gratis untuk radio-radio siaran swasta lokal di Indonesia. Tujuan pelatihan ini untuk membantu radio-radio di Indonesia mengembangkan tim pemberitaan mereka Beberaba badan dunia atau radio asing juga melakukan hal yang sama, seperti Unesco, Internews, VOA (Voice of America), Deutsche Welle (Jerman) dll.

Perkembangan siaran radio khususnya di kota-kota besar sejak reformasi digulirkan sangat cepat dan pesat. Saat ini siaran radio bukan saja sebagai media hiburan yang hanya menyiarkan lagu-lagu saja, tetapi juga sebagai media

Dan untuk mempermudah serta memperkuat penyebaran informasi/berita ini, radio-radio yang berpusat di Jakarta membangun networking atau berjejaring dengan radio-radio lokal di kota-kota lain. Bahkan tidak sedikit yang membangun radio di kota lain dengan nama yang sama. Sebut saja Smart FM yang tidak hanya ada di Jakarta saja, tapi juga di Balikpapan, Makassar, Manado dan beberapa kota besar lainnya. Atau radio Delta FM, Trijaya FM, Prambors FM, Female FM, Hard Rock FM dll. yang melakukan hal yang sama. Ada juga, Kantor Berita Radio (KBR) 68H Jakarta yang memiliki jaringan dengan puluhan radio lokal daerah sehingga dalam menyebarkan informasi/berita produksi mereka, bisa sampai ke pelosok kabupaten di seluruh Indonesia.
Beberapa radio juga bekerjasama dengan televisi swasta dalam rangka penyebaranan informasi. Seperti yang dilakukan radio Trijaya FM yang merelay program acara berita RCTI. Ini makin memudahkan khalayak yang tidak sempat menonton berita ditelevisi tapi bisa mendengarkannya dari radio. Siaran Radio luar negeri juga tidak ketinggalan. Sebut saja Radio BBC London (Inggris), Radio Nederland, Radio Australia dll ikut meramaikan siaran pemberitaan di tanah air. Biasanya radio-radio ini bekerja sama dengan radio lokal untuk penyebarluasan berita mereka yang telah dikemas dalam bahasa Indonesia (karena banyak juga orang-orang Indonesia yang bekerja di situ). Sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati juga berita-berita dari belahan dunia lain. Bahkan beberapa stasiun radio swasta terutama di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali juga telah memiliki layanan real-audio yang dapat diakses dari situs web radio-radio tersebut. Sehingga seorang pendengar di Papua misalnya bisa menyimak siaran radio FM yang ada di pulau Jawa dengan menggunakan internet. Demikianlah saat ini radio menunjukan eksistensinya yang semakin kuat ditengah persaingan merebut hati pendengar. Karena itu sebuah perusahaan radio harus bekerja keras untuk dapat memberikan yang terbaik, tercepat, aktual dan menarik. Karena jika tidak, maka dengan mudahnya khalayak menggerakkan tangan memutar tombol positioning dan segera pindah ke frekuensi lain atau bahkan beralih ke media lain.

Radio juga sudah dianggap salah satu media alternatif dalam menyampaikan aspirasi masyarakat. Pengalaman bekerja di radio membuat saya berpendapat demikian. Banyak kesempatan, jika ada gejolak aksi masyarakat (mahasiswa,buruh,warga dll) yang menuntut sesuatu kepada pemerintah misalnya memprotes kenaikan harga BBM, menuntut kenaikan Upah Minimum Propinsi atau tidak puas dengan pemerintahan sekarang dan sejumlah aspirasi lainnya kadang mereka menelepon ke redaksi untuk memberitahu akan ada aksi turun ke jalan dan minta diliput. Atau mereka hanya sekedar mengirimkan aspirasi mereka melalui fax ke redaksi.
Tidak hanya masyarakat, institusi pemerintahan, swasta sampai partai politik juga melakukan hal yang sama. Mereka tahu betul bahwa radio salah satu tempat menyampaikan pendapat dan aspirasi yang kemudian dapat disebarluaskan kepada masyarakat luas. Apalagi saat ini informasi dari media radio tidak hanya sebatas kemasan berita saja namun juga makin beragam. Sebagai contoh program acara berbentuk Talk Show dengan berbagai nara sumber yang berkompeten dan membahas berbagai masalah/topik yang sedang hangat mulai dari masalah hukum, sosial budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, ibu dan anak, wanita, remaja, hingga soal psikologi sampai seks. Sering juga pendengar ikut dilibatkan dengan memberi tanggapan melalui line telepon atau SMS, sehingga dapat langsung menyampaikan pendapat dan isi hati mereka kepada narasumber atau kepada institusi tertentu. Acara-acara yang bisa menuangkan uneg-uneg atau menyampaikan langsung masalah semacam ini yang justru paling banyak diminati pendengar. Dan jika ada satu masalah aynag diangkat dan dibahas di’udara’ tidak sedikit ada jalan keluar/solusi yang dicapai. Atau minimal si empunya masalah sedikit ‘puas’ jika masalahnya dapat dibahas.

Disadari atau tidak dari pengalaman diatas, masyarakat meyakini betul bahwa radio bisa dipakai dalam penyampaikan aspirasi/keluhan/masalah/masukan sekali-gus mampu mempengaruhi khalayak yang mendengarkan radio. Khalayak juga akan merasa kehilangan terhadap sesuatu yang dianggap telah menjadi salah satu kebutuhan mereka (kebutuhan akan informasi, hiburan dll) jika hal tersebut tiba-tiba hilang. Disamping itu khalayak juga telah mengganggap radio sebagai media yang bisa memberikan jalan keluar dari berbagai masalah yang dihadapi. Ya, radio kini telah menjadi sebuah alternatif bagi masyarakat tidak hanya akan informasi dan hiburan, tetapi juga solusi.


Kumpulan Artikel

'........melihat, mengamati,merasakan, dan menuangkannya dalam tulisan.....'